Setelah banyak sekali tulisan-tulisan yang men”demo” permen yang digunakan sebagai kembalian bagi uang recehan yang marak terjadi di supermarket atau hypermarket, kemarin saya berbelanja di salah satu hypermarket besar yang ada di kawasan Villa Melati Mas, Serpong. Bukan apa-apa sih belanja disana:
1. Parkirnya gratis
2. Kebetulan masih punya voucher Rp.700.000 yang belum digunakan.
Walaupun sebetulnya nih hypermarket lumayan nggak teratur penataannya, ketimbang voucher belanjanya nggak dipake dan trus hangus karena terlupakan.. yah mendingan dipake yah.. Betul ? *garing*
Setelah belanja belinji, akhirnya tibalah saat pembayaran. Total belanja mingguan kali itu sekitar 245.820, dengan angka yang nggak genap di belakangnya (biasalah, standar hypermarket). Dan karena vouchernya itu nggak bisa dikembalikan dalam bentuk uang, tentu saja saya nggak mungkin kasih voucher sebanyak 300.000 kan ? Akhirnya saya mengeluarkan voucher 200.000, dan sisanya saya bayar cash.
Sebetulnya saya lebih suka belanja dengan menggunakan debit card karena nggak ribet ama kembalian, tapi karena jumlahnya nggak sampe 50.000, ya saya bayar cash juga. Dalam bayangan saya, saya akan menerima kembalian beberapa ribu rupiah, plus beberapa butir permen pastinya. Saya sudah cukup parno dengan kembalian permen tapi ya apa boleh buat.. Read more
Saking familiarnya saya dengan kata teman, kata ini terasa nggak begitu bermakna dalam. Teman hanya orang yang ada di sekitar saya. Titik. Saya tidak begitu merasakan betapa beruntungnya saya ternyata karena saya memiliki banyak teman.
Hari ini saya baru menyadari, betapa beruntungnya saya dalam hidup ini. Ketika saya ada masalah dan saya tidak bisa mencegah butir-butir air mata ini mengucur begitu saja, saat itulah saya ingat dia dan memintanya untuk menemani saya. Dan dia tanpa berfikir panjang langsung berkata iya. Padahal saya mungkin bukan teman karibnya, bukan sahabatnya yang membuatnya harus mengorbankan banyak waktunya untuk mendengarkan ocehan saya yang teramat tidak penting, bahkan mungkin saat ini dia memiliki masalah yang lebih berat daripada yang saya hadapi.
Jadi keinget lirik lagu You’ve Got a Friend ini:
When you’re down and troubled
And you need a helping hand
And nothing, nothing is going right
Close your eyes and think of me
And soon I will be there
To brighten up even your darkest night
Read more
Telat amat yah menulis tentang hujan sekarang, karena kenyataannya musim hujan ternyata sudah berlangsung lama. He he he.. nggak apa-apalah.. Kalo kata Mas Abi, better late than never kan. Sekalian juga kemarin saya menikmati betul hujan yang mengguyur Jakarta.
Kemarin saya dan Gufy menempuh perjalanan dengan motor dari BSD ke Jakarta, begitu juga sebaliknya tentu saja. Ba’da magrib, sudah terlihat kilatan cahaya di langit, langit juga berwarna merah, pertanda kemungkinan besar akan hujan. Saya dan Gufy menempuh perjalanan dengan perasaan kuatir takut kehujanan. Ternyata begitu sampai daerah Mayestik.. Hujan turun dengan derasnya..
Waaah.. Saat itu rasanya emosi memuncak. Hujannya deras, semua mobil dan motor merangsak maju tanpa peduli yang lain, jalanan menjadi semakin macet, genangan air dimana-mana. Ingin sekali rasanya marah dan berkata “kenapa sih mesti hujan pas jam pulang kantor?”
Tiba-tiba, diujung jalan saya melihat banyak anak kecil membawa payung ukuran besar, berlari-lari mengejar karyawan yang bergegas mendekati mereka. Anak-anak kecil itu, para ojek payung.. Mereka mendapatkan rejeki ketika datangnya hujan.. Astagfirullah.. Saya beristighfar. Ampuni saya ya Allah, karena sudah kesal akan turunnya hujan.
Disudut yang lain, banyak motor berhenti di sebuah warung kopi kecil yang mungkin tidak terlihat jika tidak sedang hujan. Sekalian berteduh, mereka sekalian minum kopi atau makan indomie rebus sekedar untuk menghangatkan badan. Memberikan sedikit rejeki bagi pedagang warung kopi.
Subhanallah.. Saya tidak layak mempertanyakan kenapa harus turun hujan yang sudah membuat sekujur badan saya basah, akan tetapi menjadi rezeki bagi orang lain.
Disaat yang sama, suami saya berkata “Yank.. Maafkan saya karena kita hari ini harus naik motor dan kamu jadi basah.”
Saya terdiam dan memeluknya erat dalam hujan… Wahh.. hujan ternyata romantis juga ya. Meskipun banyak jalan yang banjir, meskipun badan lengket kena air, meskipun kondisi jalan macet parah, masih banyak yang bisa kita syukuri dari hujan. Alhamdulillah..
Sebuah restoran bakso di Sarinah, Jakarta **sok-sokan nggak mau sebut merk nih**. Gue lagi nungguin Gufy selesai kerja, trus kelaperan… akhirnya mampirlah di restoran bakso malang ini. Nah, pengalaman disini menurut gue layak buat diceritain, karena ngingetin gue mengenai Up Your Service yang didengung-dengungkan oleh Ron Kaufman waktu training. Jadi menurut Ron Kaufman, level dalam kepuasan pelanggan dari tingkat yang paling rendah ke paling tinggi adalah:
Basic –> Expected –> Desired –> Surprising –> Unbelievable
Nah, seringkali kan banyak diantara perusahaan service yang mungkin menerapkan sampai level expected saja. Yang selanjutnya kayaknya berat banget buat diterapkan.
Begitu gue masuk, gue disambut oleh pelayan wanita yang nanya “Berapa orang mbak?”. Oke, ini basic, secara dia nanya berapa orang buat nyiapin tempat duduk gue kan.. :D. Setelah teriakan “guess is coming, handle please”, gue pun diajak oleh seorang pelayan laki-laki ke meja gue.
“Sendirian mbak?” Read more
<<cerita seorang kawan>>
Suatu pagi di Bandar Lampung, menjemput seseorang dibandara. Orang itu sudah tua, kisaran 60 tahun. Sebut saja si bapak.
Si bapak adalah pengusaha asal singapura, dengan logat bicara gaya melayu, english, (atau singlish?) beliau menceritakan pengalaman2 hidupnya kepada kami yang masih muda. Mulai dari pengalaman bisnis, spiritual, keluarga, bahkan percintaan hehehe..
“Your country is so rich!”
Ah biasa banget kan denger kata2 begitu. Tapi tunggu dulu..
Read more

