Dia berdiri diluar pagar rumah saya. Lelah menghiasi wajahnya..
“Bu.. apa betul nggak ada pekerjaan untuk saya?”
Saya bingung. Ini kali kedua Ana datang ke rumah Saya, melamar untuk jadi pembantu di rumah saya.
Kami cuma tinggal berdua, jarang ada di rumah karena keduanya bekerja. Barang-barang kami juga sedikit, rumah cukup sederhana yang tidak sulit dibersihkan. Suami saya juga bukan tipe orang yang rewel apabila rumah yang berantakan dan belum sempat dibersihkan.
Ana berusia 16 tahun, asli Semarang. Ia tidak dapat meneruskan sekolah karena kondisi orang tuanya. Lulus SMP, Ia pergi ke Jakarta dengan bis bersama teman-temannya yang sudah lebih dulu mendapatkan kerja di Jakarta. Saat ini dia mengontrak menumpang, kalau menggunakan istilahnya, di rumah kontrakan di kampung pendudukan disamping perumahan Saya.
“Bayar saya berapa saja, bu. Saya bisa masak juga bu..” begitu ia berkata. Saya terenyuh dengan kata-katanya.. Membuat saya makin pusing. Kasihan.. tapi saya belum butuh. Belum benar-benar butuh orang untuk membantu pekerjaan saya.
Apa yang harus saya lakukan?
This entry was posted
on Sunday, June 8th, 2008 at 11:27 am and is filed under Curhat, Woman's world.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.









2 comments so far
rekomendasikan saja ke teman teman mu yang barangkali saat ini sedang membutuhkan pembantu / baby sitter.
mungkin itu bisa sedikit membantunya.
hati hati juga jangan sampai majikannya galak, dan si ANA nya juga harus di waspadai, jangan sampai anda merekomendasikan orang yang salah.
who know ?
June 9th, 2008 at 3:17 pm
waduhhhh…. kasian juga..
June 9th, 2008 at 3:52 pm
Leave a Comment