Be Assertive…

Jumat sore gue terima telpon dari mantan boss di kantor yang lama. Kaget juga sih. Ternyata si manager ambil pensiun dini dari kantor yang lama dan sekarang jadi unit manager salah satu perusahaan asuransi. Secara waktu dulu itu dia yang rekrut gue, kayaknya sekarang dia pengen narik gue juga ke perusahaannya itu, dan ngajakin gue ketemuan hari Sabtu.

Seninnya beliau sms lagi, ngajakin ketemuan di Summarecon Mall Serpong, tapi gue gak bisa karena ngantor di Mega Kuningan. Hari ini dia sms lagi, ngajakin buka bareng.. lagi-lagi gue gak bisa karena banyak kerjaan di kantor yang deadline dan sepertinya gue bakal lembur demi nyelesain tuh report dan analisa.

Tapiiii.. sebetulnya gue juga males kalo dia mau narik gue lagi. Cuma kok gue gak bilang gue gak berminat atas tawarannya ya? Gue takut nanti dia kecewa, takut nanti gak bisa menjalin relasi yang baik dengan dia, takut deh pokoknya …
Gue gak assertive ya..

Image Hosted by ImageShack.use-psikologi.com menulis bahwa asertivitas adalah suatu kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain. Dalam bersikap asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan atau pun merugikan pihak lainnya.

Menurut kamus wikipedia, assertiveness is a trait taught by many personal development experts and psychotherapists and the subject of many popular self-help books. It is linked to self-esteem and considered an important communication skill.

Seorang yang asertif memiliki kriteria:
- Merasa bebas untuk mengekspresikan perasaan, pikiran dan keinginan
- Mengetahui hak mereka
- Mampu mengontrol kemarahan. Tidak berarti me-repress perasaan ini, akan tetapi mengontrol dan membicarakannya kembali dengan logic dan tidak dilandasi emosi semata.

Kembali lagi ke cerita diatas, ketidak asertifan gue membuat gue jadi terus-terusan harus menghindar setiap kali si mantan boss nelpon atau sms. Padahal kalo dipikir, emangnya gue punya salah ke dia? Nggak kan ya? Tapi yang terjadi, gue sendiri jadinya ngerasa nggak nyaman, kayak yang selalu sembunyi dari dia.

Trus, gimana sih caranya biar bisa assertive?
Gue sendiri termasuk yang nggak asertif sih **he he he… ngaku** karena paling nggak bisa bikin orang kecewa dengan keputusan gue. Setelah gue blogwalking, gue menemukan link ini. Menurut Mbak Pratanti dalam blognya ini, cara untuk mengembangkan kemampuan asertif adalah dengan mengembangkan sistem nilai yang asertif; mempelajari ketrampilan-ketrampilan untuk berkomunikasi yang asertif; menggunakan gaya komunikasi yang sesuai; dan yang terakhir adalah terus berlatih.

Setelah kejadian ini, gue bener-bener yakin bahwa gue harus mulai untuk asertif, otherwise gue bakal terus-terusan nggak nyaman dan selalu sembunyi tiap kali nggak bisa berkata nggak ke orang lain.

Doakan gue ya… :D

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • del.icio.us
  • Netvouz
  • DZone
  • ThisNext
  • MisterWong
  • Wists

3 comments so far

buat saya, asertif itu sebuat pilihan… tergantung kita sendiri apakah mau melakukannya atau tidak ;)

thx for the link
salam kenal…

pratanti
September 16th, 2008 at 10:27 pm

“…kayaknya sekarang dia pengen narik gue juga ke perusahaannya itu…”
Ini asumsimu kan? Ya kalo iya, kalo enggak? Gini aja, mbak Nina…

Skenario via phone:
MB (mantan bos) : ‘Nin, bisa ketemu hari X?’
N (nina): ‘Wah, kebetulan belum bisa, Pak. Karena blablabla (be honest aja, 2depoint). Gimana kalo hari a di tempat b jam c? (luangkan waktu dikitlah, katanya pingin tetep jaga hubungan?’

Deal.

Nah, pas ketemu, dengarkan dan pahami aja tujuan si mantan bos. Trus sampaikan kenapa kamu tidak tertarik dengan jawaban-jawaban yang logis (tentu sebelum ketemu udah dipikirin poin-poin yang ingin disampaikan).

Nah biasanya mereka pantang menyerah tuh. Berani untuk tegas aja, mbak. Trus alihkan pembicaraan ke hal lain, seputar keluarganya, mungkin. Orang kan seneng kalo disuruh cerita tentang dirinya sendiri.

Kalo suasana sudah cair, segera tutup pembicaraan dan pamit. Sebelum dia maksa lagi, hehe. Dont worry, orang asuransi sudah dilatih untuk menerima penolakan kok.

Kemarin aku juga diprospek gitu. Tapi syukurlah, setelah asertif, tetep sama-sama enak.

sanggita
September 17th, 2008 at 8:56 am

Ehmmm, kalau berhubungan dengan yang berbau-bau ngajak mengajak (MLM, Asuransi, Kartu Kredit) rasa-rasanya sih tidak perlu assertif lagi ya. Si pengajak pastinya sudah tahu konsekuensinya, sudah pasti tahu banyak yang enggan, sudah pasti tahu banyak yang ga mau tapi susah bilangnya.

Anjar Priandoyo
September 17th, 2008 at 1:09 pm

Leave a Comment

Name (required)

Mail (will not be published) (required)

Website

Comment