Belajar mengenai kehidupan memang bisa kita peroleh dari siapapun. Hal ini saya alami ketika berada dalam sebuah taxi burung biru. Dari Mega Kuningan saya menuju Telkom Learning Center yang ada di kawasan Slipi. Seperti biasa, saya mengajak ngobrol Bapak supir taxi, mulai dari membahas Jakarta yang semakin macet, pengendara motor yang terkadang ugal-ugalan, sampai hal-hal sepele seperti “ini taxi pool mana ya Pak?”
Ketika melewati Mall Taman Anggrek, saya berkata bahwa saya belum pernah ke Telkom Learning Center ini, dan bertanya kira-kira posisinya dimana. Jawaban si Bapak sangat mengejutkan saya..
“Diseberang ini ada kantor Telkom mbak, dulu perusahaan saya meletakkan server disana.”
Whaaaatttt?? Supir taxi tau server ??
Kemudian mengalirlah cerita si Bapak..
Si bapak dulunya adalah seorang Account Manager di sebuah perusahaan raw material, dia cukup sukses dan menghandle beberapa klien manufaktur. Ternyata backgroundnya sendiri adalah dari IT, dan pekerjaan pertamanya adalah sebagai Programmer…
Belum cukup saya dibuat terbengong-bengong, beliau bercerita bahwa sebetulnya beliau lebih tertarik pada bidang Jaringan.
Lalu apa yang membuat Bapak menjadi supir taxi seperti ini?
Setahun yang lalu, ia tertarik dengan tawaran untuk membuat usaha sendiri (saya kurang jelas usaha di bidang IT atau bukan) bersama seorang temannya sehingga ia resign dari perusahaannya, sampai akhirnya mereka bangkrut.
Tapi si Bapak punya prinsip “laki-laki itu harus keluar rumah untuk mencari nafkah untuk keluarganya, sehingga pekerjaan apapun asal halal dan bisa membuat dapur mengepul akan dilakukannya”.
Betapa drastis perubahan dalam hidupnya, membuat saya terkagum-kagum dengan cara bicaranya yang santun dan penuh makna. Saya mulai berfikir bagaimana ia bisa menerima perubahan hidupnya yang tadinya diatas, kemudian menjadi di bawah. Dia bilang “kunci hidup supaya bisa tetap bahagia itu ya Ikhlas, Mbak..” , tanpa ikhlas, mungkin Saya sudah stress. Saya selalu mencoba untuk berfikir positif dan saya menyukai pekerjaan saya. Dengan menjadi supir saya bisa bertemu dengan banyak orang, mendengarkan pengalaman mereka dan mengambil hikmah.
Ketika ada pelanggan yang cerita mengenai kebahagiaannya, itu menjadi motivasi buat saya bahwa setiap orang bisa bahagia.
Ketika ada pelanggan yang sepanjang jalan mengeluh, saya menyadari betapa saya juga termasuk orang yang beruntung.
Whuiiiiwww…. Saya menjadi terenyuh. Kadangkala ketika sedang hectic dengan pekerjaan saya, saya menjadi kesal dan tidak menyukai pekerjaan saya. Saya tidak menikmati pekerjaan itu dan akhirnya malah menjadi semakin berat. Ketika kita dengan lapang dada bekerja, dengan ikhlas dan menyukai pekerjaan itu, ia akan terasa menyenangkan dan ringan untuk dikerjakan.
Salut buat si bapak.. dan terima kasih telah mengingatkan saya arti dari sebuah keikhlasan Pak.. ![]()
This entry was posted
on Saturday, April 18th, 2009 at 8:40 am and is filed under Self Development, Career.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.










8 comments so far
Pas banget ya
makanya harus ikhlas tuh :p
April 18th, 2009 at 10:39 am
Iya Dhik..:D
kalo gak ikhlas, bawaannya ngegerutu melulu ya.. hihi
April 18th, 2009 at 4:53 pm
susahnyaaa belajar ikhlas..
April 19th, 2009 at 4:44 pm
ikhlas adalah salah satu hal yang semua manusia belum tentu bisa memilikinya……..
April 20th, 2009 at 7:06 am
Thx for sharing..
April 20th, 2009 at 9:20 am
sebuah pengalaman yang menarik untuk diambil hikmahnya
keep posting sist!
April 22nd, 2009 at 12:07 pm
betulllll
April 23rd, 2009 at 4:53 pm
yups…ikut aja deh
April 23rd, 2009 at 4:54 pm
Leave a Comment