Get the networking through training / group sharing

Seminggu yang lalu saya mengikuti sebuah pelatihan yang terkait dengan Compensation Planning & Budgeting yang diselenggarakan oleh salah satu konsultan HR cukup ternama (nggak mau ngiklan dot com). Kebetulan meja trainingnya dibuat dalam round table, dimana setiap meja terdiri dari 3 - 4 orang.
Saya duduk di depan, di meja tengah; dengan tujuan supaya kepala saya nggak miring kanan-atau miring kiri ketika melihat ke layar LCD. Betapa menyenangkannya ketika, ternyata yang bergabung dengan meja saya usianya (terlihat) tidak terlalu jauh berbeda dengan saya.

Mulailah pembicaraan ini dengan saling bertukar kartu nama. Dan bagaimana tidak tercengangnya saya, karena kartu nama yang mereka tunjukkan dengan posisi “HRD Manager” atau “Head of Human Resources” atau “Human Resources Asst. Manager”. Wah, masih pada muda-muda tapi sudah menduduki posisi manager di perusahaan besar pula.

Pada akhirnya, training berjalan dengan sangat kondusif. Semua partisipan secara aktif belajar dan berdiskusi mengenai kasus yang diberikan; makan siang yang lezat ditambah dengan saling share mengenai masalah-masalah kecil yang sering dihadapi di HRD (terutama yang terkait dengan compensation & benefit) yang diakhiri dengan kami saling bertukar pin bb (tetep eksis yaaa…)
Read more

Me-manage rasa cemburu pada pasangan bekerja

Image Hosted by ImageShack.usDelapan jam bekerja (belum termasuk jika banyak tugas-tugas pending yang mengharuskan kita bekerja lebih lama), menyebabkan waktu kita di kantor kadangkala lebih lama dibandingkan dengan waktu kita bersama keluarga. Hal yang sama juga terjadi pada saya dan Gufy.

Kami berdua seringkali bekerja hingga larut malam, seringnya melakukan perjalanan dinas keluar kota tidak memungkinkan kami untuk sering bersama-sama. Ditambah lagi dengan rekan kerja saya yang kebanyakan laki-laki. Meeting dengan para manager yang semuanya laki-laki, diskusi hingga larut malam dengan teman kerja juga semua laki-laki. Begitupun setiap kali perjalanan dinas, seringkali saya menjadi satu-satunya perempuan di rombongan. Sementara Gufy, seringkali pulang kantor hingga larut malam sehingga tidak memungkinkan kami untuk pulang bareng, apalagi makan malam berdua. Satu-satunya kesempatan kami untuk berbicara agak lama hanya di perjalanan menuju kantor di pagi hari :D Selama kami bekerja, jangan harap ada komunikasi, kecuali untuk hal-hal urgent yang harus dibicarakan saat itu juga.

Banyak teman sering mempertanyakan, apakah diantara kami tidak ada rasa cemburu ? Apakah diantara kami sebegitu cueknya dengan pasangan?
Read more

Mengajukan resign dengan cara yang baik

Image Hosted by ImageShack.us Menyampaikan kepada atasan mengenai pengunduran diri bagi saya bukan hal yang mudah. Pergolakan dalam batin karena sudah merasa sangat cocok dengan lingkungan kerja disini, perasaan sedih karena harus meninggalkan teman-teman yang sudah sama-sama berjuang di HR membuat saya beberapa kali maju mundur mengajukan resign.

1. Memberanikan diri untuk menghadap si boss
Agak kagok juga ketika saya mengirimkan message via YM ke si boss..

Saya : “Pak pak, lagi sibuk gak ?”
Si boss : “Lumayan.. Knapa ?”
Saya : “Ada yang mau aku bicarain pak.. Sebentar aja sih ..”
Si boss : “Agak sorean aja ya, sekarang gue lagi sibuk nih”

Hufff… lega. Biar kata nanti sore baru menghadap, paling nggak tahap pertama memberanikan diri untuk menghadap si boss sudah terpenuhi.

Tips : Yakinkan diri lebih dulu bahwa resign adalah keputusan terakhir dan tidak ragu untuk mengambil keputusan resign sebelum membuka pembicaraan dengan si Boss.
Read more

Karir dan rumah tangga, bisakah jalan beriringan?

Image Hosted by ImageShack.us Sekitar dua minggu yang lalu, Saya mendapatkan tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan MNC. Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari perusahaan yang sekarang, tetapi dengan role dan responsibilities yang lebih tinggi, load kerja yang lebih tinggi juga, dan kemungkinan besar akan mengharuskan saya business trip ke beberapa kantor cabang yang ada di luar kota.

Disisi lain, perusahaan saya yang sekarang kemungkinan besar akan memindahkan lagi HRD ke kantor yang di BSD, yang cuma 15 menit dari rumah saya. Bayangkan… 15 menit dari rumah ke kantor mungkin sangat diidam-idamkan oleh ibu rumah tangga yang bekerja. Nggak capek, bisa antar jemput anak ke sekolah, tidak terjebak kemacetan yang menyebabkan nggak sempet ketemu anak, dan just in case ada emergency di rumah, bisa pulang kapan aja.. What a very wonderful life ya..
Read more

Belajar dari seorang supir taxi

Image Hosted by ImageShack.usBelajar mengenai kehidupan memang bisa kita peroleh dari siapapun. Hal ini saya alami ketika berada dalam sebuah taxi burung biru. Dari Mega Kuningan saya menuju Telkom Learning Center yang ada di kawasan Slipi. Seperti biasa, saya mengajak ngobrol Bapak supir taxi, mulai dari membahas Jakarta yang semakin macet, pengendara motor yang terkadang ugal-ugalan, sampai hal-hal sepele seperti “ini taxi pool mana ya Pak?”

Ketika melewati Mall Taman Anggrek, saya berkata bahwa saya belum pernah ke Telkom Learning Center ini, dan bertanya kira-kira posisinya dimana. Jawaban si Bapak sangat mengejutkan saya..
“Diseberang ini ada kantor Telkom mbak, dulu perusahaan saya meletakkan server disana.”
Whaaaatttt?? Supir taxi tau server ??
Kemudian mengalirlah cerita si Bapak..
Read more