Mengajukan resign dengan cara yang baik

Image Hosted by ImageShack.us Menyampaikan kepada atasan mengenai pengunduran diri bagi saya bukan hal yang mudah. Pergolakan dalam batin karena sudah merasa sangat cocok dengan lingkungan kerja disini, perasaan sedih karena harus meninggalkan teman-teman yang sudah sama-sama berjuang di HR membuat saya beberapa kali maju mundur mengajukan resign.

1. Memberanikan diri untuk menghadap si boss
Agak kagok juga ketika saya mengirimkan message via YM ke si boss..

Saya : “Pak pak, lagi sibuk gak ?”
Si boss : “Lumayan.. Knapa ?”
Saya : “Ada yang mau aku bicarain pak.. Sebentar aja sih ..”
Si boss : “Agak sorean aja ya, sekarang gue lagi sibuk nih”

Hufff… lega. Biar kata nanti sore baru menghadap, paling nggak tahap pertama memberanikan diri untuk menghadap si boss sudah terpenuhi.

Tips : Yakinkan diri lebih dulu bahwa resign adalah keputusan terakhir dan tidak ragu untuk mengambil keputusan resign sebelum membuka pembicaraan dengan si Boss.
Read more

Kepada siapa aku mengadu…

Ketika rasa sakit itu datang, menusuk organ-organ tubuhku, hingga aku terkulai dan tak berdaya berbuat apa… Ketika rasa ragu mencengram, hingga sesak rongga nafas ini dibuatnya.. Ketika godam itu menghantam kepala hingga mau pecah..

Atau ketika aku ingin menangis saking bahagianya, atau ketika aku ingin pingsan saking terkejutnya, atau ketika aku ingin melayang saking tak percayanya…

Aku ini manusia.. Ingin meluapkan segala rasa, menumpahkan segala gundah, menceritakan.. kalau perlu ke seisi dunia tentang masalahku, tentang sakitku, tentang perihku, tentang gundahku, juga tentang cintaku, tentang mimpiku, tentang tawaku, tentang gilaku, tentang ini tentang itu, tentang semuanya.

Tapi aku kan juga bukan artis, yang semua orang tertarik mendengar ceritaku, memutarnya berkali-kali dari pagi hingga malam hingga pagi lagi dalam infotainment hingga membuat orang bosan dengan cerita-ceritaku.

Jadi, kutuliskan saja tulisan tulisan yang tidak bermakna ini disini, di blog ini.. Yang mungkin hanya aku yang membaca..
Dan buat yang tak sengaja membaca, maafkan jika menemukan tulisan-tulisan yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan…

*coretan-yang-tidak-jelas-dan-tidak-perlu-dibaca-hari-ini*

Ngurus KPR ternyata rumit ya

Tepat sehari sebelum ke Anyer, saya mendapat telpon dari pihak Bank BNI untuk melakukan akad kredit rumah.. Setelah sekian lama di proses dan di hitung ulang sejak bunga bank naik, akhirnya akad juga. Alhamdulillah, dalam hati saya berkata. Meskipun bunga bank mencapai 14.5 % flat 1 tahun, tapi apa boleh buatlah. He he he…

Proses akadnya akan dilakukan di hari Senin, tanggal 23 Desember 2008. Bla bla bla.. trus si mbak yang nelpon minta saya (kembali) menyiapkan berkas-berkas seperti kartu keluarga, buku nikah, dan slip gaji serta surat keterangan kerja. Kartu keluarga dan buku nikah sih gampang lahh.. ada ini di rumah. Slip gaji? Tinggal dikirim via email dan di print sendiri. Tapi surat keterangan kerja??

Haaah?? Kaget dong !! Itu udah hari Rabu sore, padahal Rabu malam saya harus berangkat ke Anyer dan acara sampai dengan Jumat sore. Seninnya karena akan akad, saya ambil cuti dong.. Udah pasti hari Rabu itu terakhir saya bekerja dalam minggu itu. Meskipun saya kerja di bagian HRD, nggak bisa cepat untuk meminta surat keterangan kerja. Paling nggak akan makan waktu 1 hari.. Lagipula saat ditelpon itu, saya tahu persis bagian C & B sedang sibuk persiapan untuk pembayaran gaji. Mana tega saya minta mereka menyiapkan surat keterangan pada waktu seperti itu. Lagipula, bukannya pada waktu penyerahan berkas sebelum persetujuan, saya sudah menyerahkan surat keterangan kerja ya?? **Capek deehhh**
Read more

Teman

Saking familiarnya saya dengan kata teman, kata ini terasa nggak begitu bermakna dalam. Teman hanya orang yang ada di sekitar saya. Titik. Saya tidak begitu merasakan betapa beruntungnya saya ternyata karena saya memiliki banyak teman.

Hari ini saya baru menyadari, betapa beruntungnya saya dalam hidup ini. Ketika saya ada masalah dan saya tidak bisa mencegah butir-butir air mata ini mengucur begitu saja, saat itulah saya ingat dia dan memintanya untuk menemani saya. Dan dia tanpa berfikir panjang langsung berkata iya. Padahal saya mungkin bukan teman karibnya, bukan sahabatnya yang membuatnya harus mengorbankan banyak waktunya untuk mendengarkan ocehan saya yang teramat tidak penting, bahkan mungkin saat ini dia memiliki masalah yang lebih berat daripada yang saya hadapi.

Jadi keinget lirik lagu You’ve Got a Friend ini:

When you’re down and troubled
And you need a helping hand
And nothing, nothing is going right
Close your eyes and think of me
And soon I will be there
To brighten up even your darkest night

Read more

Hujan..

Image Hosted by ImageShack.us Telat amat yah menulis tentang hujan sekarang, karena kenyataannya musim hujan ternyata sudah berlangsung lama. He he he.. nggak apa-apalah.. Kalo kata Mas Abi, better late than never kan. Sekalian juga kemarin saya menikmati betul hujan yang mengguyur Jakarta.

Kemarin saya dan Gufy menempuh perjalanan dengan motor dari BSD ke Jakarta, begitu juga sebaliknya tentu saja. Ba’da magrib, sudah terlihat kilatan cahaya di langit, langit juga berwarna merah, pertanda kemungkinan besar akan hujan. Saya dan Gufy menempuh perjalanan dengan perasaan kuatir takut kehujanan. Ternyata begitu sampai daerah Mayestik.. Hujan turun dengan derasnya..

Waaah.. Saat itu rasanya emosi memuncak. Hujannya deras, semua mobil dan motor merangsak maju tanpa peduli yang lain, jalanan menjadi semakin macet, genangan air dimana-mana. Ingin sekali rasanya marah dan berkata “kenapa sih mesti hujan pas jam pulang kantor?”
Tiba-tiba, diujung jalan saya melihat banyak anak kecil membawa payung ukuran besar, berlari-lari mengejar karyawan yang bergegas mendekati mereka. Anak-anak kecil itu, para ojek payung.. Mereka mendapatkan rejeki ketika datangnya hujan.. Astagfirullah.. Saya beristighfar. Ampuni saya ya Allah, karena sudah kesal akan turunnya hujan.

Disudut yang lain, banyak motor berhenti di sebuah warung kopi kecil yang mungkin tidak terlihat jika tidak sedang hujan. Sekalian berteduh, mereka sekalian minum kopi atau makan indomie rebus sekedar untuk menghangatkan badan. Memberikan sedikit rejeki bagi pedagang warung kopi.
Subhanallah.. Saya tidak layak mempertanyakan kenapa harus turun hujan yang sudah membuat sekujur badan saya basah, akan tetapi menjadi rezeki bagi orang lain.

Disaat yang sama, suami saya berkata “Yank.. Maafkan saya karena kita hari ini harus naik motor dan kamu jadi basah.”
Saya terdiam dan memeluknya erat dalam hujan… Wahh.. hujan ternyata romantis juga ya. Meskipun banyak jalan yang banjir, meskipun badan lengket kena air, meskipun kondisi jalan macet parah, masih banyak yang bisa kita syukuri dari hujan. Alhamdulillah..