Delapan jam bekerja (belum termasuk jika banyak tugas-tugas pending yang mengharuskan kita bekerja lebih lama), menyebabkan waktu kita di kantor kadangkala lebih lama dibandingkan dengan waktu kita bersama keluarga. Hal yang sama juga terjadi pada saya dan Gufy.
Kami berdua seringkali bekerja hingga larut malam, seringnya melakukan perjalanan dinas keluar kota tidak memungkinkan kami untuk sering bersama-sama. Ditambah lagi dengan rekan kerja saya yang kebanyakan laki-laki. Meeting dengan para manager yang semuanya laki-laki, diskusi hingga larut malam dengan teman kerja juga semua laki-laki. Begitupun setiap kali perjalanan dinas, seringkali saya menjadi satu-satunya perempuan di rombongan. Sementara Gufy, seringkali pulang kantor hingga larut malam sehingga tidak memungkinkan kami untuk pulang bareng, apalagi makan malam berdua. Satu-satunya kesempatan kami untuk berbicara agak lama hanya di perjalanan menuju kantor di pagi hari
Selama kami bekerja, jangan harap ada komunikasi, kecuali untuk hal-hal urgent yang harus dibicarakan saat itu juga.
Banyak teman sering mempertanyakan, apakah diantara kami tidak ada rasa cemburu ? Apakah diantara kami sebegitu cueknya dengan pasangan?
Read more
Sekitar dua minggu yang lalu, Saya mendapatkan tawaran pekerjaan di sebuah perusahaan MNC. Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari perusahaan yang sekarang, tetapi dengan role dan responsibilities yang lebih tinggi, load kerja yang lebih tinggi juga, dan kemungkinan besar akan mengharuskan saya business trip ke beberapa kantor cabang yang ada di luar kota.
Disisi lain, perusahaan saya yang sekarang kemungkinan besar akan memindahkan lagi HRD ke kantor yang di BSD, yang cuma 15 menit dari rumah saya. Bayangkan… 15 menit dari rumah ke kantor mungkin sangat diidam-idamkan oleh ibu rumah tangga yang bekerja. Nggak capek, bisa antar jemput anak ke sekolah, tidak terjebak kemacetan yang menyebabkan nggak sempet ketemu anak, dan just in case ada emergency di rumah, bisa pulang kapan aja.. What a very wonderful life ya..
Read more
Tepat sehari sebelum ke Anyer, saya mendapat telpon dari pihak Bank BNI untuk melakukan akad kredit rumah.. Setelah sekian lama di proses dan di hitung ulang sejak bunga bank naik, akhirnya akad juga. Alhamdulillah, dalam hati saya berkata. Meskipun bunga bank mencapai 14.5 % flat 1 tahun, tapi apa boleh buatlah. He he he…
Proses akadnya akan dilakukan di hari Senin, tanggal 23 Desember 2008. Bla bla bla.. trus si mbak yang nelpon minta saya (kembali) menyiapkan berkas-berkas seperti kartu keluarga, buku nikah, dan slip gaji serta surat keterangan kerja. Kartu keluarga dan buku nikah sih gampang lahh.. ada ini di rumah. Slip gaji? Tinggal dikirim via email dan di print sendiri. Tapi surat keterangan kerja??
Haaah?? Kaget dong !! Itu udah hari Rabu sore, padahal Rabu malam saya harus berangkat ke Anyer dan acara sampai dengan Jumat sore. Seninnya karena akan akad, saya ambil cuti dong.. Udah pasti hari Rabu itu terakhir saya bekerja dalam minggu itu. Meskipun saya kerja di bagian HRD, nggak bisa cepat untuk meminta surat keterangan kerja. Paling nggak akan makan waktu 1 hari.. Lagipula saat ditelpon itu, saya tahu persis bagian C & B sedang sibuk persiapan untuk pembayaran gaji. Mana tega saya minta mereka menyiapkan surat keterangan pada waktu seperti itu. Lagipula, bukannya pada waktu penyerahan berkas sebelum persetujuan, saya sudah menyerahkan surat keterangan kerja ya?? **Capek deehhh**
Read more
Imam Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah, ia menuturkan, “Rasulullah menikahiku pada bulan syawal dan tinggal bersamaku pada bulan syawal. Lalu, adakah istri Rasulullah yang lebih beruntung di sisi beliau daripada aku?” (HR. Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’I, dll.)
Hadist diatas menjadi dasar bagi banyak orang untuk menikah di bulan Syawal, karena bulan syawal adalah bulan yang baik untuk menikah. Jadilah setiap bulan syawal, kayaknya kita kebanjiran undangan nikah. Hebatnya, temen-temen yang nikah setelah Lebaran ini bukan hanya temen-temen yang muslim, tapi juga yang bukan muslim. Jadilah setiap sabtu dan minggu, pagi dan malem kita sibuk mikirin mana yang mesti didatangin, mana yang titip salam aja. Abis kan nggak mungkin kalo ngedatengin nikah di waktu yang sama, tapi satu di depok satu di tangerang… he he he…
Nah, giliran taon ini kayaknya temen-temen yang seumuran dengan gue mulai pada nikah.. **hehe.. berarti gue 2 tahun lebih cepet daripada rata-rata anak seangkatan nikah yak** .
Jadi, mendingan mohon maaf dulu buat temen-temen yang udah ngundang nikah, tapi nggak bisa didatengin.. Bukan nggak mau, hanya saja ada beberapa kendala sehingga gue akhirnya cuma bisa ngedatengin beberapa aja.
Buat yang baru menikah atau akan menikah, kita berdua mendoakan:
“Barakallahulaka wa baraka alaika, wa jama’a bainakuma fii khoir”
Semoga Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu serta mengumpulkan kamu berdua dalam kebaikan“
**Pengen ngasih tips buat mereka yang baru menikah, tapi kok rasanya malu ya, abis kan gue juga baru nikahnya.. Hihihi**
(curhat colongan dikala jenuh)
Lumayan lama nggak update blog, tiba-tiba curhat. Apaan sihhh.. he he he..
Beberapa minggu terakhir ini, gue ngerasa kok hidup gue jadi nggak balance banget. Dibanding dulu jaman masih hidup dengan tenang di desa terutama. Dulu waktu hidup di desa, gue masih sempet aerobik dua kali seminggu, masih sempet baca novel, masih sempet jalan-jalan ke mall, masih sempet juga bersosialisasi dengan temen-temen (baca: gosip), sempet bersihin rumah alias nyapu, ngepel, nyuci. Sabtu dan minggu masih bisa bangun pagi trus lari-lari kecil di taman kota, trus belanja di pasar modern BSD, trus masak-masak di rumah..
Sekarang?
Kayaknya kok waktu gue abis buat kerjaan.. Kerjaan lagi dan kerjaan lagi. Pergi jam 6.30 pagi, pulang jam 10 malem. Nggak ada waktu buat baca novel atau seneng-seneng, apalagi buat olahraga. Sabtu minggu rasanya badan nggak kuat lagi buat ngapa-ngapain.. Paling cuma diem di rumah. Itu juga dengan catatan nggak ada pending kerjaan yang harus di kerjain di rumah (kalo ada, biasanya gue mesti bangun tengah malam buta buat ngerjain nih kerjaan). Nelpon orang tua aja suka nggak inget kalo nggak ditelpon duluan **maafin Nina ya Yah..**
Kondisi yang sama terjadi juga dengan Gufy.. Ih, dia sih lebih parah lagi kali..
Padahal berkali-kali gue bilang “hidup itu mesti balance. Lu punya banyak role dalam hidup lu. Role sebagai karyawan, role sebagai istri, role sebagai pribadi dan semua role itu harus tetap dijalankan. Antara karir, keluarga, dengan tanggung jawab pribadi nggak boleh ada yang dianak tirikan. Nggak bisa deh kalo satu role dianggap lebih tinggi dibanding role yang lain..”
Kemampuan time-management guekah yang salah ?
Phiuuu… ada yang mesti gue benahi, sebelum gue merasa hidup gue sangat monoton dan memuakkan..
Doakan saya ![]()

