Matahari,
Sampai kapan kau akan berdiri angkuh
Pancarkan sinar terik yang menyiksa sukma
Acuhkan segala pandang yang menghiba..
Tak adakah sedikit tempat untukku, matahari
Diantara planet yang mengitarimu
Diantara bulan yang bersinar atas cahayamu
Tak tersisakah setitik asa untukku?
Ataukah aku mungkin hanya semilir angin
Melintas sekejap, sejukkan sesaat
Dan bahkan ketika aku tak kembali
Kau pun tak mencari
Mungkin memang ku harus berhenti
Ketika gelap menutup hari
Dan sisa-sisa mataharimu
mulai terbenam tertutup malam
BSD, 27 April 2009
Inspired by : Berhenti Berharap-nya Sheila on 7
Menatap ia dalam lelap tidurnya
Mencintainya dengan segenap
Rasa yang yang kupunya…
Lelaplah tidurmu Sayang…
Tak kubiar kau terjaga
Lepaskanlah segala lelah
Jauhlah semua resah
Dan kelak ketika kau terjaga
Aku pasti ada disisimu
Tetap mencinta …
Seperti setiap hariku
Bumi Serpong Damai, 4 April 2009 : 10:25 PM
Bunda,
Aku hancur..
Aku jatuh..
Aku remuk sekarang..
Kau dimana Bunda?
Aku ingin menangis di pelukmu
Karena hanya dengan rengkuh tanganmu
Aku bisa melepaskan semua
Penat yang kurasa
Tapi
Kau tak ada Bunda…
Kau tak ada…
Bunda,
Aku rindu tawamu
Yang mampu redamkan gundah hatiku
Aku rindu wangimu
Yang mampu teduhkan risau jiwaku
Aku rindu segala tentangmu Bunda
Kau dimana Bunda?
Aku sendiri kini Bunda..
Dalam hancurku
Dalam jatuhku
Dalam remukku
Kau sudah tak ada …
Kau tak ada…
BSD, 28 Oktober 2008
aku kangen ibu..semoga ibu tenang disana..
Takkan pernah bisa kudekati dirimu matahari
aku hanya setitik debu yang kan kotori indahmu
takkan sampai aku menjamahmu matahari
aku hanya bisa pandangi kharisma
cahayamu yang bersahaja
Takkan pernah mampu kurengkuh kau matahari
aku hanya secuil benda yang kan terbakar bara
takkan mungkin aku memelukmu matahari
meski rasa begitu memaksa
meski harap begitu menghiba
meski cinta begitu dalamnya
Aku tak pernah berfikir untuk memilikimu matahari
dan menghancurkan dunianya
aku hanya butuh kau terangi sebagian sisi hari
kuatkan aku jalani sebagian gelap lainnya
Aku mencinta … namun tak bisa mendamba
Jakarta, 13 Agustus 2008
Dedicated to ‘one of my friend’ : cinta tak harus selalu memiliki buuu..
Dan..
Tiba di persimpangan sebelum akhir
Sebuah perjalanan fiksi dalam sebuah hati
[fiksikah ini?]
Dimana butir khayal mulai tanggal
Langkah mulai jelas arah
Waktu mulai terus memburu
Selangkah sebelum awal
Sebuah perjalanan dunia nyata
Bayang ragu makin menghantu
Akankah langkah dilanjutkan
Meski hati sudah menjadi mati
Membeku dan tergugu
Tinggalkan kehampaan pada perca kehidupan
Dan..
Ketika perca kehidupan ternoda
Ingin hentikan langkah namun
Intuisi memaksa –lanjutkan hingga akhir
[sadarkan dirimu hai intuisi?]
Karena cemas hanya ilusi tak berkualitas
Lahir dari ketakutan dan ketakberdayaan
Intuisi bermain di ruang logika
Mempertanyakan dimana letak etika
Yah.. lanjutkan dan tak ada yang terluka
Kecuali noda yang semakin berdarah
Pada perca kehidupanmu sendiri
[Intuisi sendiri menjawab begitulah etika]

