Seminggu yang lalu saya mengikuti sebuah pelatihan yang terkait dengan Compensation Planning & Budgeting yang diselenggarakan oleh salah satu konsultan HR cukup ternama (nggak mau ngiklan dot com). Kebetulan meja trainingnya dibuat dalam round table, dimana setiap meja terdiri dari 3 - 4 orang.
Saya duduk di depan, di meja tengah; dengan tujuan supaya kepala saya nggak miring kanan-atau miring kiri ketika melihat ke layar LCD. Betapa menyenangkannya ketika, ternyata yang bergabung dengan meja saya usianya (terlihat) tidak terlalu jauh berbeda dengan saya.
Mulailah pembicaraan ini dengan saling bertukar kartu nama. Dan bagaimana tidak tercengangnya saya, karena kartu nama yang mereka tunjukkan dengan posisi “HRD Manager” atau “Head of Human Resources” atau “Human Resources Asst. Manager”. Wah, masih pada muda-muda tapi sudah menduduki posisi manager di perusahaan besar pula.
Pada akhirnya, training berjalan dengan sangat kondusif. Semua partisipan secara aktif belajar dan berdiskusi mengenai kasus yang diberikan; makan siang yang lezat ditambah dengan saling share mengenai masalah-masalah kecil yang sering dihadapi di HRD (terutama yang terkait dengan compensation & benefit) yang diakhiri dengan kami saling bertukar pin bb (tetep eksis yaaa…)
Read more
Belajar mengenai kehidupan memang bisa kita peroleh dari siapapun. Hal ini saya alami ketika berada dalam sebuah taxi burung biru. Dari Mega Kuningan saya menuju Telkom Learning Center yang ada di kawasan Slipi. Seperti biasa, saya mengajak ngobrol Bapak supir taxi, mulai dari membahas Jakarta yang semakin macet, pengendara motor yang terkadang ugal-ugalan, sampai hal-hal sepele seperti “ini taxi pool mana ya Pak?”
Ketika melewati Mall Taman Anggrek, saya berkata bahwa saya belum pernah ke Telkom Learning Center ini, dan bertanya kira-kira posisinya dimana. Jawaban si Bapak sangat mengejutkan saya..
“Diseberang ini ada kantor Telkom mbak, dulu perusahaan saya meletakkan server disana.”
Whaaaatttt?? Supir taxi tau server ??
Kemudian mengalirlah cerita si Bapak..
Read more
Sebuah restoran bakso di Sarinah, Jakarta **sok-sokan nggak mau sebut merk nih**. Gue lagi nungguin Gufy selesai kerja, trus kelaperan… akhirnya mampirlah di restoran bakso malang ini. Nah, pengalaman disini menurut gue layak buat diceritain, karena ngingetin gue mengenai Up Your Service yang didengung-dengungkan oleh Ron Kaufman waktu training. Jadi menurut Ron Kaufman, level dalam kepuasan pelanggan dari tingkat yang paling rendah ke paling tinggi adalah:
Basic –> Expected –> Desired –> Surprising –> Unbelievable
Nah, seringkali kan banyak diantara perusahaan service yang mungkin menerapkan sampai level expected saja. Yang selanjutnya kayaknya berat banget buat diterapkan.
Begitu gue masuk, gue disambut oleh pelayan wanita yang nanya “Berapa orang mbak?”. Oke, ini basic, secara dia nanya berapa orang buat nyiapin tempat duduk gue kan.. :D. Setelah teriakan “guess is coming, handle please”, gue pun diajak oleh seorang pelayan laki-laki ke meja gue.
“Sendirian mbak?” Read more
Minggu kemaren gue sempet ngobrol sedikit dengan pejabat dari sebuah perusahaan. Dari ngobrol-ngobrol mengenai sejarah dan karirinya, kita mulai berbicara mengenai developing people.
So amazing.., yang buat gue jadi pengen nulis dikit disini tentang falsafahnya beliau yang menurut gue layak untuk di-share.
Ketika kita menyinggung mengenai training needs, yang kita biasa lakukan adalah mencari gap antara ideal dan real. Betul ndak? Ujung-ujungnya yang akan keluar selalu kelemahan-kelemahan atau kekurangan yang harus didevelop. Kita terus berkutat dalam memperbaiki kelemahan kita, dan selalu menganggap sisi kekuatan kita sudah cukup dan nggak perlu di develop.
Sewaktu gue bertanya, gimana caranya si pejabat ini untuk mendevelop anak buahnya, Read more
Kalo tiba-tiba bos nyuruh lu presentasi depan umum, dengan target audience level manager keatas (padahal posisi lu cuma officer doang), apa yang akan lu lakuin?
Kalo lu ngadepin kondisi diatas, gue mau kasih beberapa tips ala Nina buat persiapan presentasi:
1. Buat slide yang simple
Kadang kita terjebak pengen taro’ tuh semua materi yang ada di dalam slide kita. Akibatnya, slide jadi penuh berisi tulisan dan kita cenderung cuma membaca tulisan yang ada di slide. Selain itu, audience kemungkinan akan lebih fokus membaca tulisan daripada mendengarkan presentasi kita. Usahakan slide cuma memuat garis besarnya saja. Sisanya lakukan penjelasan dari garis-garis besar itu. Usahakan ketika menjelaskan, jangan membaca dari slide sehingga membuat kita membelakangi audience (itulah gunanya ada tampilan slide di laptop, supaya kita cukup melihat sekilas dari layar laptop.. he he he..)
Read more

