Menunggu saat (hamil) itu tiba

Image Hosted by ImageShack.us

Setiap kali ketemu makhluk yang namanya cewek, pertanyaannya selalu “jadi lu belum hamil juga, bu?”. Ih capek deh pura-pura senyum, yang aja jadi kecut gitu senyumnya.
Lucunya, banyak banget ibu-ibu dan calon ibu-ibu yang kasih ceramah mentoring singkat tentang gimana biar bisa hamil. Di kantor, ada yang cerita pengalamannya sambil lewat di koridor jalan pas mau ke toilet, ada juga yang sampe ngajak ke tempat kerjanya biar bisa ‘lebih jelas’ dalam menyampaikan pengalamannya. Secara gue anak muda yang menghormati ibu-ibu atas niat baik mereka, ya gue ngikutlah ke tempat kerjanya, dan jreeeeenggg… si ibu ambil kertas dan pulpen buat ngasih gue penjelasan.
Nggak tau deh nih bener apa nggak, tapi sekilas tadi gue googling ada yang bener juga kayaknya:

1. Baca kalender haid
Iihh.. itu sih nenek-nenek juga udah tau ya. Gue dikasih tau bahwa sel telur keluar pada pertengahan siklus, sekitar hari ke-14 sampai ke-16 dihitung dari hari pertama menstruasi. Cuma masalahnya kalo yang haidnya gak teratur, gak gampang nentuin kapan masa suburnya. Tapi ya gue sih dengerin ajalah, jadi katanya kalau yang nggak teratur, masa suburnya itu adalah plus minus 14 hari sebelum perkiraan hari pertama masa haid berikutnya.

2. Perubahan Lendir serviks
Nah yang ini gue baru tau. Ternyata katanya wanita yang lagi masa subur, lendir yang ada di mulut rahim mengalami perubahan yang bersifat spinbarkeit. Lendir lentur, nggak putus kalo ditarik, dan agak lengket.. Ya begitu deh.
Read more

Ana

Dia berdiri diluar pagar rumah saya. Lelah menghiasi wajahnya..
“Bu.. apa betul nggak ada pekerjaan untuk saya?”

Saya bingung. Ini kali kedua Ana datang ke rumah Saya, melamar untuk jadi pembantu di rumah saya.

Kami cuma tinggal berdua, jarang ada di rumah karena keduanya bekerja. Barang-barang kami juga sedikit, rumah cukup sederhana yang tidak sulit dibersihkan. Suami saya juga bukan tipe orang yang rewel apabila rumah yang berantakan dan belum sempat dibersihkan.

Ana berusia 16 tahun, asli Semarang. Ia tidak dapat meneruskan sekolah karena kondisi orang tuanya. Lulus SMP, Ia pergi ke Jakarta dengan bis bersama teman-temannya yang sudah lebih dulu mendapatkan kerja di Jakarta. Saat ini dia mengontrak menumpang, kalau menggunakan istilahnya, di rumah kontrakan di kampung pendudukan disamping perumahan Saya.

“Bayar saya berapa saja, bu. Saya bisa masak juga bu..” begitu ia berkata. Saya terenyuh dengan kata-katanya.. Membuat saya makin pusing. Kasihan.. tapi saya belum butuh. Belum benar-benar butuh orang untuk membantu pekerjaan saya.

Apa yang harus saya lakukan?

Kartini-Kartini hari ini…

Waktu jaman masih sekolah, setiap hari Kartini diperingati dengan ke sekolah pake kebaya lengkap dengan kain plus sanggul, kadang-kadang ditambahi dengan dandanan… Seru… soalnya biasanya jadinya nggak belajar **begitulah anak sekolahan ya, nggak belajar rasanya seneng banget**.

Di SMP gue dulu, kalo hari Kartini biasanya ada lomba peragaan busana Kartini, dimana peserta berjalan di panggung persis kayak model lagi peragaan busana. Tapi karena pas SMP, gue nggak dikategoriin sebagai cewek **huh, kejam** jadi nggak pernah ditunjuk untuk mewakili kelas dalam lomba-lomba begitu

lho kok bahasannya jadi ngelantur ke nostalgia jaman SMP ya..

Read more

Poligami ala Ayat-Ayat Cinta

Udah nonton film Ayat-Ayat Cinta ?

Fachri bin Abdullah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Dalam perjalanan belajarnya, dia memegang teguh prinsip batasan pergaulan antara laki-laki dan wanita, dan hal itu juga (salah satu) yang membuat banyak wanita mengaguminya (kalo menurut banyak orang, Fachri ini equal dengan Si Boy dalam Catatan si Boy -versi Islam.. “sempurna” akhlak, pikiran, kecerdasan, dan digandrungi cewek2. Nurul, Naura, Maria dan Aisha, adalah wanita-wanita yang ada di sekeliling Fachri. Ketika akhirnya ia menikah dengan Aisha, menimbulkan kekecewaan pada Nurul, Maria dan Naura. Masing-masing menyikapi pernikahan Fachri dengan cara yang berbeda. Nurul ikhlas menerima kenyataan, Maria sakit-sakitan, sementara Naura akhirnya menuduh Fachri telah memperkosanya (yang ini jadi berakibat panjang deh… ) **kalo pengen lengkap baca novelnya atau tonton filmnya yak, kalo gue tulis disini sih jadinya panjang banget**

Salah satu topik yang diangkat dalam film yang diambil dari novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul yang sama ini mengemukakan mengenai poligami yang “terpaksa” harus dilakukan oleh Fachri, Aisha dan Maria, dan bagaimana gejolak rumah tangga mereka bertiga diawal pernikahan keduanya. Mengapa Fachri sampai melakukan poligami terpapar dengan sangat jelas (sepemahaman gue sih, karena dengan poligami itu bisa menyelamatkan paling tidak tokoh Maria, Fachri sendiri, dan masa depan anak Fachri - Aisha).
Read more

Kalo suami (terpaksa) melakukan pekerjaan rumah tangga…

Sebuah Renungan Buat Bapak-Bapak (dan calon bapak) di Hari Ibu, 22 Desember 2007

Cowok itu kan identik dengan pekerjaan kantoran yang menghasilkan uang. Pergi pagi pulang malam, belum lagi kalau harus lembur; dengan satu kebanggaan tersendiri karena [merasa] punya penghasilan yang cukup dan bisa menyenangkan istri dengan penghasilannya. Pas pulang, langsung tidur karena kecapekan..

Sementara cewek, selain ikut bantuin suami kerja cari nafkah demi sesuap nasi. Pergi pagi dan pulang malem juga, menghasilkan uang juga. Tapi.. begitu di rumah, nggak bisa langsung tidur kayak si suami. Apalagi dengan alasan kecapekan (Nggak ditolerir banget tuh ibu-ibu kalo pulang langsung tidur karena kecapekan. “Siapa suruh ikutan kerja coba..”)
Read more