Gila ih.. Dia tuh hobinya ngejelek-jelekin orang lain mulu supaya dia keliatan baik dimata boss.. trus berharap dengan begitu bisa cepet naik deh karir dan gajinya..
Seorang teman dalam curhatnya melalui YM
Menjelek-jelekkan rekan di depan boss, mengakui hasil kerja tim sebagai hasil kerja sendiri, “njilat”, adalah cara yang umumnya dipakai untuk menjegal karir orang lain yang diperkirakan sebagai saingan. Akibatnya, iklim kerja jadi tidak kondusif, bawaan jadi suudzon melulu, dan bukan nggak mungkin, kita juga lama-lama berfikiran “dia aja bisa gitu, masak gue nggak sih?” atau “gue rugi nih kalo ngalah mlulu ama dia”
Rekan kerja dan kita seyogyanya mampu menjadi tim yang kuat, yang bisa saling mendukung dalam pekerjaan, sehingga hasil kerja merupakan sinergi dari tim kerja dan mampu memberikan keluaran yang optimal bagi perusahaan.
Bersaing untuk menjadi lebih baik dan memiliki prestasi lebih tinggi dibanding yang lain adalah hal yang memang dituntut oleh perusahaan supaya tercipta performance kerja yang tinggi, tapi kalau saingannya jadi tidak sehat, apa yang harus kita lakukan?
1. Tetap berfikiran positif
Selalu berfikir, pasti ada alasannya kenapa orang itu bener-bener menginginkan karir dan atau gaji yang lebih baik dan cobalah untuk berfikir sebagai dia untuk mengerti alasannya melakukan itu. Dengan begitu kita akan bisa sedikit-sedikit “maklum” dengan apa yang dia lakukan dan kenapa dia sampai melakukan itu. Siapa tau istrinya lagi hamil muda dan butuh banyak uang untuk biaya persalinan anaknya; atau dia selalu dituntut oleh orangnya untuk menjadi orang yang berhasil karena selalu dibandingkan dengan kakak-kakak atau adiknya.
2. Lakukan pendekatan secara personal
Kalau kita sudah tau apa yang mendasari dia, coba dekati. Siapa tau kita bisa jadi sahabatnya dan ngebantu dia menyelesaikan masalahnya. Temen dapet, permusuhan jadi ilang kan.. ![]()
3. Jangan terpancing
Kalau ternyata kita nggak bisa jadi temennya dia, jangan ikut-ikutan jadi seperti dia yang ngelakuin persaingan nggak sehat. Kalo kita aja nggak suka digituin, pasti yang lain juga nggak suka kan?
4. Tunjukkan hasil kerja yang maksimal
Dia boleh aja ngejelek-jelekkin kita, atau ngejilat, atau whatever namanya.. Tapi kalo hasil kerja kita bagus, masak sih boss tutup mata? Percaya deh.. Boss kita jadi atasan, pasti karena perusahaan nilai dia cukup wise dan objektif.
5. Tetep sabar dan berdoa
Nggak ada kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan “Yang Diatas”. Mau dikata kita dihina-hina sampe sekantor tau, tapi dengan kesabaran dan doa, semuanya pasti bisa kita lalui.
Jangan benci ama dia, tapi bencilah ama perbuatannya. Doakan dia semoga cepet sadar dan kita bisa kembali kerja sama dengan dia sebagai tim, tanpa ada rasa benci atau keinginan untuk menyakiti.
Sukses ya..
This entry was posted
on Monday, October 22nd, 2007 at 1:30 am and is filed under Career.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.










7 comments so far
Bagus bgt artikelnya pas bgt ama kondisi teman saya di salah satu kantor di Jakarta. Boleh ku kirim ke dia kan ? buat support agar dia tetap survive he..he..
October 22nd, 2007 at 1:59 am
silahkan saja mbak (saya mewakili penulis kok, sepertinya neng nina lagi sibuk hehehehehe
)
October 22nd, 2007 at 2:47 am
wah, ini jelas tulisan si mbak, ga mungkin mas nya nulis ginian.. *angguk-angguk*
October 22nd, 2007 at 3:14 am
wahahahahaha….
siap lah pak mbu …
mas kusuma ga berani kasih comment
*takut ama mbak nina kali *
October 22nd, 2007 at 3:16 am
thanks mbak… sering-sering mampir ya..
October 22nd, 2007 at 6:45 am
mantep2x .. ini terjadi dimana2x .. thx u .. dew …
tapi kenapa yahh ,, kok daku tetap kesel sama tuh orang .. hmmm sebel2x
November 27th, 2007 at 7:05 am
[…] yang sedang menanti kelahiran putranya ini cukup rajin menulis di: Apakah resign adalah solusi?. Bagaimana cara mengatasi persaingan tidak sehat? Jadi kalau ada pertanyaan, jangan ragu untuk Say Hi ke […]
December 2nd, 2007 at 8:11 pm
Leave a Comment