Dear mba Nina…
Mohon sarannya dong, saya lagi diantara pilihan yang sulit neh….. karena saya sudah mendapat pekerjaan baru di perusahaan yang berani membayar saya 3x lipat…. sedangkan diperusahaan yang sekarang atasan tidak mengijinkan saya untuk resign bahkan memberikan offering sebanyak 2x lipat… terus musti gimana dong sedangkan kondisi kantor saya sekarang :
- tidak kondusif
- pencapaian target perusahaan yang kecil
- Tingkat kesejahteraan yang minim
- tidak adanya karir path yang jelas
yang mengherankan kenapa pada saat saya mengajukan resign saya baru hargai dengan gaji yang lebih 2x lipat…. apakah memang diperlukan prosedur wait & action oleh perusahaan dan saya cenderung feeling pada perusahaan yang baru karena jenjang karir yang terlihat menantang dan tersedia… dinamika hasil target perusahaan yang sangat tinggi (perush. telekomunikasi autorized distributor)
tapi istri saya lebih berharap saya bertahan di perusahaan lama dan menerima offering dari perusahaan saya…
yodi_boy
Ada yang bisa kasih sharing, dalam kondisi seperti ini apa yang harus dilakukan?
Terus terang saya tidak bisa menjawab apa yang harus dilakukan, karena keputusan ini sangat tergantung pada Anda dan keluarga Anda, sehingga Andalah yang harus memutuskan jalan apa yang akan ditempuh.
Tapi mungkin saya bisa berbagi..Seringkali teman-teman saya seperti juga Anda, baik yang akan direlokasi keluar kota maupun pindah ke perusahaan lain berkata “kalo gue belom punya istri dan anak aja… pasti gue jalanin deh..”
Menurut saya, ada banyak pertimbangan sebelum kita memutuskan untuk melakukan sesuatu (dalam hal ini resign), mari kita coba telusuri yang mana sebetulnya prioritas kita. Sebagai laki-laki saya yakin ada keinginan untuk terus berkembang yang kemudian Anda melihat ada peluang di perusahaan yang baru, apalagi dengan kondiri kantor yang sekarang tidak kondusif. Sementara peluang yang sangat lebar terbuka untuk Anda diperusahaan yang baru. Udah gajinya naiknya tinggi sekali, pekerjaan yang lebih menantang, careerpath yang lebih jelas, de el el. **Kalo saya sih udah nggak pikir panjang lagi.. langsung bilang resign dan sign offering ditempat yang baru tuh.. he he he..**
Nah, cobalah untuk mengkomunikasikan alasan-alasan yang ada dibalik keinginan Anda yang kuat untuk resign. Tapi jangan lupa, istri juga punya alasan-alasan yang ada dibelakang keputusan istri. Hal ini yang perlu sama-sama dibicarakan sehingga nantinya bisa diambil suatu keputusan bersama dan bukan keputusan yang diambil oleh satu pihak saja.
Istri, keluarga pada dasarnya pasti menginginkan yang terbaik untuk kita dan keluarga kita. Ia mungkin tidak tahu bagaimana kondisi yang terjadi di perusahaan kita yang sekarang, ia mungkin tidak menyadari betapa pentingnya careerpath yang jelas bagi anda. Tentu saja dalam pengambilan keputusannya, ia hanya akan melihat pada satu sudut pandang saja. Begitu juga kita hanya menilai dari sudut pandang kita tanpa melihat bagaimana sudut pandang istri / suami.
Sewaktu Gufy memutuskan untuk resign dari perusahaannya yang dulu padahal ia belum pasti diterima di perusahaannya yang sekarang, saya sempat sangat menentang. Sekali lagi, hal ini sangat berkaitan dengan “perasaan aman” dan “comfort zone”. Bagaimana kalau ternyata nggak diterima? Bagaimana kalau dia harus menganggur? Apakah hanya dengan gaji saya bisa menanggung kehidupan kami berdua nantinya? Tapi ketika Gufy menjelaskan alasannya dan saya bisa menerima, saya nggak masalah dengan keputusan itu dan kami saling membantu. Begitu juga ketika saya memutuskan untuk resign waktu itu..
Mungkin begitu juga dengan istri anda. Ada banyak hal yang ia pikirkan dan mungkin dengan sudut pandang yang berbeda dengan Anda.
Saran saya, komunikasikan apa yang terjadi di perusahaan yang sekarang, bagaimana kondisi di perusahaan yang baru, career path yang Anda harapkan dapat anda jalani di perusahaan yang baru, dan dengarkan juga alasan apa yang ada di balik keputusan istri anda. Kalau sudah sepakat, jalani sama-sama keputusan itu sehingga ketika terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan, tidak ada lagi yang akan berkata “kamu sih yang nyuruh bikin keputusan begini”.
**lho, kok bahasa gue jadi bersaya-saya begini ya?**
This entry was posted
on Tuesday, September 23rd, 2008 at 7:50 pm and is filed under Career, Any Idea ??.
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed.
You can leave a response, or trackback from your own site.









5 comments so far
Menurut saya, Mas Yodi tidak perlu bingung. Tawaran 3x jauh lebih besar dibandingkan tawaran 2x kan. Jadi tunggu apa lagi? Masalah kekecewaan karena perusahaan lama seakan mempermainkan anda biarkan saja, sudahlah, itu masa lalu yang tidak perlu lagi anda takutkan.
Mengenai hubungannya dengan istri dan keluarga. Saya rasa ini lebih pada masalah komunikasi. Saya yakin kalaupun menentang pastinya istri Mas-nya punya pertimbangan sendiri seperti jarak, working hours, hingga pressure di pekerjaan. Apapun, asalkan menurut kalkulasi Mas-nya semua itu sudah baik ya sudah ambil pilihan yang terbaik itu.
Menurut pengalaman saya, menyikapi hal seperti ini kita harus tetap tenang, fokus pada pilihan-pilihan yang logis dan hindari hal-hal emosional sesaat yang mempengaruhi keputusan kita. Coba juga pelajari komponen-komponen lain diluar gaji seperti lingkungan pekerjaan yang tentunya mempengaruhi karir mas-nya kedepan.
*)Anjar, yang memposisikan diri diluar masalah. Mungkin kalau didalam masalah sama mumetnya mas :(. Semangat ya, semoga dapet yang terbaik.
September 24th, 2008 at 1:12 pm
Bermanjatkan do’a pada kehadiratNYA, mohon dibukakan pikiran untuk memilih jalan yang terbaik. Maaf saya tidak bisa memberikan pendapat, takut salah. Bantu men do’a kan saja ya
September 25th, 2008 at 1:54 am
ada offer, saya pindah ga ya?
September 25th, 2008 at 6:15 am
irfani : saya sarankan kamu untuk tidak pindah walaupun ada offer yang lebih baik, karena nanti saya repot cari penggantinya.
September 25th, 2008 at 11:59 am
itu lah nina, saya confuse. Bukan Soal offernya yg memang lebih baik, tapi passionnya itu loh http://irfani.web.id/2008/09/22/mtv-mvc-pythonista.html. Pengganti kan msih byk tmn2 yg di desa, pacung, maupun di sby. ga tau knpaa byk tmn ikut2an smua.
abis lebaran kputusannya dah kasi tau PM, selamat mudik. mohon maaf lahir batin.
*jadi curhat gini gw
September 25th, 2008 at 12:17 pm
Leave a Comment