Udah nonton film Ayat-Ayat Cinta ?
Fachri bin Abdullah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Dalam perjalanan belajarnya, dia memegang teguh prinsip batasan pergaulan antara laki-laki dan wanita, dan hal itu juga (salah satu) yang membuat banyak wanita mengaguminya (kalo menurut banyak orang, Fachri ini equal dengan Si Boy dalam Catatan si Boy -versi Islam.. “sempurna” akhlak, pikiran, kecerdasan, dan digandrungi cewek2. Nurul, Naura, Maria dan Aisha, adalah wanita-wanita yang ada di sekeliling Fachri. Ketika akhirnya ia menikah dengan Aisha, menimbulkan kekecewaan pada Nurul, Maria dan Naura. Masing-masing menyikapi pernikahan Fachri dengan cara yang berbeda. Nurul ikhlas menerima kenyataan, Maria sakit-sakitan, sementara Naura akhirnya menuduh Fachri telah memperkosanya (yang ini jadi berakibat panjang deh… ) **kalo pengen lengkap baca novelnya atau tonton filmnya yak, kalo gue tulis disini sih jadinya panjang banget**
Salah satu topik yang diangkat dalam film yang diambil dari novel karya Habiburrahman El Shirazy dengan judul yang sama ini mengemukakan mengenai poligami yang “terpaksa” harus dilakukan oleh Fachri, Aisha dan Maria, dan bagaimana gejolak rumah tangga mereka bertiga diawal pernikahan keduanya. Mengapa Fachri sampai melakukan poligami terpapar dengan sangat jelas (sepemahaman gue sih, karena dengan poligami itu bisa menyelamatkan paling tidak tokoh Maria, Fachri sendiri, dan masa depan anak Fachri - Aisha).
Film ini juga memberikan pemahaman dan kenyataan bahwa berlaku adil itu tidak mudah. Fachri bolak-balik mencari cara supaya bisa adil terhadap kedua istrinya. Dan Aisha? Walaupun ia yang menganjurkan Fachri untuk menikahi Maria, ternyata juga tidak sanggup menahan dirinya untuk cemburu melihat Fachri dan Maria.
So point yang gue tangkap sehubungan dengan cerita poligami ala Ayat-Ayat Cinta adalah:
* Poligami dalam film ini dilakukan karena “terpaksa”, bukan karena unsur “nafsu” atau sejenisnya.
* Poligami adalah cara yang dihalalkan oleh agama, akan tetapi sesuai dengan surat An-Nisa apabila kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka nikahilah satu saja
* Bagaimanapun ikhlasnya sang istri melihat suaminya berpoligami, cemburu adalah hal yang sangat manusiawi terjadi, baik dari sisi istri pertama maupun istri kedua.
However, ada kalimat yang paling gue suka nih..
“antara cinta dan keinginan untuk memiliki, tidak sama” (kata-kata Maria menjelang saat-saat ajal akan menjemputnya)









8 comments so far
duh, di sini ada kupasan AAC, di sana juga ada..
kenapa ya berlomba-lomba menguliti tema ini?
February 25th, 2008 at 11:21 am
Iya nih Mas Kopdang,
mumpung masih hangat dalam ingatan persis setelah nonton. He he he..
February 25th, 2008 at 6:47 pm
blum nonton euy… apalagi baca nopelnya hehehe
February 26th, 2008 at 8:54 am
kalo baca novelnya … tokohnya too-perfect … padahal there is no such thing buat orang biasa
February 26th, 2008 at 12:47 pm
Cinta dan ingin memiliki memang tidak sama, Cinta ’selalu’ ingin memiliki…sementara ingin memiliki belum tentu cinta, meskipun bisa berujung cinta juga sih.
March 9th, 2008 at 1:28 pm
blom nonton sih, baru denger2 ceritanya doang.
cuma… kalo gua gak salah tangkep cerita orang2 yang udah nonton/baca, gua kok kepikiran sesuatu …
kalo seandainya si tokoh maria tsb berwajah “secantik” pok atik dan ndeso/miskin, apa si fachri bakal nikahin juga ya?
kalo ternyata yang sakit2an+cinta sama dia ternyata lebih dari 3 orang , gimana cara dia milihnya yak?
hehehe….
March 18th, 2008 at 9:54 am
ada agenda zionis dibalik film aac.ayat-ayat cinta pake ilustrasi musik spiritual yahudi. coba cek di film yahudi karya sutradara zion steven spielberg :schindler list. original soundtrack schindler list sama dengan ilustrasi musik yang dipakai di ayat2 cinta(bukan yang lagunya rosa). coba search di youtube “schindler’s list music”. musik itu digubahh komponis zion bernama itzhak perlman . mengapa film islam menggunakan ilustrasi musik spiritual yahudi???
March 22nd, 2008 at 11:01 am
film aac bagus juga meskipun novelnya kental akan ekspresi narsisme dan egomaniacal dari penulisnya yang dikemas dalam eksibisme kesalehan dan kealiman. Menurut gua cerita di novel aac merupakan dakwah islami sekaligus keinginan bawah sadar dari penulisnya untuk dipuja-puja. digila-gilai , dipuja2kaum wanita. Sebuah obsesi yang tidak mencapai kenyataan, akhirnya diproyeksikan dalam bentuk novel. Mungkin penulisnya pengen banget jadi nabi Yusuf. Dipenjara, difitnah, jago ngaji,ganteng, sholeh, alim dan dikejar-kejar cewe-cewe. Mantaaap hehehe
April 2nd, 2008 at 12:47 pm
Leave a Comment