Seberapa Penting Psikotest dalam penerimaan karyawan?

Benarkan psikotest memegang peranan penting dalam sebuah proses rekrutmen? Bagaimana cara untuk lolos dalam psikotest yang diadakan oleh perusahaan? Sebenarnya, apa yang diukur oleh psikotest? Dan hasil psikotest seperti apa yang diharapkan oleh perusahaan?

Hampir semua perusahaan menggunakan psikotest untuk menyaring kandidat yang potensial dalam sebuah proses rekrutmen. Psikotest merupakan sebuah sarana dan cara “gampang” untuk mengetahui secara cepat traits dari seseorang. Umumnya, satu set alat tes psikologi akan mengukur secara keseluruhan aspek si calon karyawan. Intelegensi, motivasi, emosi, relasi sosial, work style, dan ketahanan kerja adalah beberapa aspek dari sekian banyak aspek yang diukur dalam sebuah psikotest.

Seberapa efektifkah psikotest dilaksanakan?Mungkin kita sudah seringkali mendengar bahwa banyak alat tes yang sudah “bocor” . Seorang teman pernah mengambil kunci jawaban tes IST dari tangan seorang calon karyawan yang sedang di-psikotest. Parahnya, bukan satu atau dua kali kejadian semacam ini terulang. Mungkin juga kita pernah menemukan bagaimana bahan kuliah mahasiswa psikologi mengenai tes WZT yang seharusnya hanya dikonsumsi untuk kalangan psikologi ternyata justru jadi penghias di etalase salah satu toko buku terbesar di Indonesia. Begitu juga dengan banyaknya buku psikotest yang beredar di pasar saat ini (mungkin buku-buku psikotest termasuk buku yang best-seller?)Lalu, apakah psikotest masih efektif untuk dipergunakan? Menurut beberapa teman sesama HRD dan psikologi, psikotest paling efektif jika dilakukan untuk menyaring kandidat yang jumlahnya banyak sekali, atau untuk menyaring level-level tertentu (level freshgraduate misalnya). Hal ini tujuannya untuk menyaring kandidat sehingga lebih mudah untuk melaksanakan tahapan selanjutnya, yaitu interview. Tidak pernah terbayang kan, kita akan melakukan sesi interview untuk 500 orang kandidat? Dari 1000 orang yang diberikan psikotest misalnya, mungkin yang akan ke sesi interview hanya 1/10-nya saja. Dan biasanya, yang peminatnya sangat banyak seperti itu adalah apabila posisi ini dibuka untuk orang-orang yang freshgraduate atau maksimal 1 tahun pengalaman. Jadi meskipun, misalnya soal psikotest bocor, tetap saja psikotest mampu melakukan “penyaringan awal”. Untuk level experience, psikotest jarang sekali dilaksanakan secara lengkap. Umumnya yang digali bukan lagi aspek intelegensi, tetapi lebih pada aspek kepribadian, misalnya leadership, work style, dll. Untuk menggali semua ini, umumnya alat tes yang digunakan jauh lebih sederhana dan tidak memakan waktu yang lama. Sebut saja DiSC, salah satu alat assessment yang saat ini sedang hangat-hangatnya dipergunakan, bukan hanya karena waktu pengerjaan yang relatif singkat, akan tetapi juga karena penggunaannya yang mudah (karena tidak harus di-conduct oleh seorang psychologist) dan mampu menggali kepribadian seseorang cukup dalam.

Bagaimana cara untuk lolos Psikotest? Hasil psikotest seperti apa yang diharapkan oleh Perusahaan?Untuk menjawab pertanyaan ini agak gampang-gampang susah. Kenapa? Perlu dipahami bahwa psikotest bukan ditujukan untuk mencari orang dengan hasil tes terbaik, akan tetapi mencari kandidat yang sesuai dengan requirement. Kedua hal ini berbeda, karena kadangkala kita tidak membutuhkan orang dengan hasil tes terbaik untuk mengisi suatu posisi, karena kalau tidak maka akan terjadi over-qualified yang dapat menyebabkan si potential candidate ini akan cepat merasa bosan / jenuh dengan pekerjaannya. Selain itu juga mungkin akan terjadi over-paid, dimana dengan kemampuannya yang berlebih, perusahaan harus membayar lebih mahal untuk mendapatkan kandidat ini, padahal tidak semua skill yang dimilikinya dibutuhkan oleh perusahaan, dan tidak semua skillnya juga dipergunakan untuk bekerja di perusahaan ini.The point is, psychotest dilaksanakan untuk mencari kandidat yang sesuai dengan permintaan, sehingga tidak lolos psikotest tidak berarti bodoh atau memiliki kepribadian yang buruk, akan tetapi lebih kepada tidak match dengan requirement dari kebutuhan. Hasil psikotest yang diharapkan oleh perusahaan tentu saja adalah yang match dengan kebutuhan perusahaan, sehingga tidak ada standar resmi untuk “lolos” tahapan psikotest. Hal ini sangat tergantung dari bagaimana standar yang berlaku di perusahaan tersebut, dan bagaimana “culture” perusahaan itu. Tidak ada cara lain dalam psikotest kecuali menjadi diri Anda sendiri.

Merekayasa psikotest, hanya akan menyulitkan diri Anda, karena begitu Anda lolos dan resmi menjadi karyawan, Anda harus terus merekayasa diri Anda agar sesuai dengan culture dan standar perusahaan. Kalau Anda lolos, berarti memang Anda sesuai dengan kualifikasi yang dibutuhkan dan “diprediksi” cocok dengan lingkungan baru dan culture baru tersebut. Mengutip instruksi yang diberikan oleh tester “untuk psikotest ini tidak diperlukan persiapan apa-apa”. Hal ini memang benar, karena umumnya persoalan yang diberikan pada psikotest adalah persoalan-persoalan yang prinsip dan pengetahuan-pengetahuan dasar saja. Yang paling penting adalah menjaga kondisi tubuh tetap fit (mengingat lama psikotest berkisar antara 3 – 5 jam) dan berusaha untuk bekerja sebaik mungkin dengan mengikuti setiap instruksi yang diberikan. Kalau Anda tidak lolos, jangan bersedih dan menganggap “dunia ini kiamat”. Jangan pernah berfikir bahwa dunia Anda kiamat. Tidak lolos psikotest hanya berarti Anda tidak cocok untuk pekerjaan ini di perusahaan ini, dan ini tidak berarti Anda tidak bisa diterima untuk pekerjaan ini di perusahaan lain, atau untuk pekerjaan yang lain.

Persiapkan diri dengan lebih matang dan jangan pernah menyerah!!

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • del.icio.us
  • Netvouz
  • DZone
  • ThisNext
  • MisterWong
  • Wists

32 comments so far

Jadi kalo mo psikotest ga perlu beli buku2 kisi2 psikotest donk :D

tiddduuuuurrr ajaaaaa zzzzzzzzzzzzz

gufy
July 1st, 2007 at 8:41 pm

Exactly.. Do you think that you have to learn to answer this question “Jika sebatang pensil harganya Rp. 25, maka berapa harga 3 batang pensil?” :p

Nina
July 2nd, 2007 at 7:40 pm

hahahaha…

So, is that one of the “Psikotest” question ?? :p

gufy
July 2nd, 2007 at 11:10 pm

Test psikologi?????
SAntai aja kali. Kalo kita ngerjain dg santai,kita jd gak perlu kuatir dan takut ama test tsb

Novi
September 27th, 2007 at 1:39 am

Setuju banget Nov..
Psikotes cuma untuk cari orang yang sesuai, bukan cari orang yang terbaik. Jadi kalo gagal, bukan berarti gak bagus,.. tapi emang gak cocok.. :D

Nina
October 2nd, 2007 at 3:16 am

Mbak nanya nich …
Kalo ada perusahaan yang melakukan psiko test padahal karyawan tsb sdh bekerja di perusahaan tsb, kira2 wajar nggak yach ???

Best Regard,

Bintang,
http://elindasari.wordpress.com

elindasari
November 19th, 2007 at 1:59 am

Mbak Erlinda :
Biasanya psikotest yang dilakukan oleh perusahaan ketika statusnya sudah menjadi karyawan bentuknya adalah assessment, yang biasanya tujuannya adalah promosi atau mutasi (atau bahkan pengurangan karyawan). Jadi sah sah saja dilakukan.

Nina
November 20th, 2007 at 9:54 pm

Salam Kenal Nin..

Dulu awal-awal cari kerja waktu baru lulus selalu jatuhnya di psikotes walopun secara akademik gw lulusan psikologi. Setelah sekali dapet kerja eh…ternyata bisa lolos terus setiap nyoba tes di perusahaan lain. Bener banget tuh..kalo kita tenang dan gak grogi malah hasilnya bisa lebih bagus. Padahal kayaknya sih jawaban gw tetap sama aja dr. tes satu ke tes lain.

brigita
November 29th, 2007 at 1:40 am

pertanyaan paling fundamental bagi para pencari kerja adalah bagaimana mendapatkan pekerjaan…………bukan bagaimana kepribadian saya….

sekarang dilihat dulu siapa yang lebih membutuhkan? jelas jawabannya para pencari kerja..karena jumlah mereka lebih banyak…

nah , jika salah seorang pencari kerja (kita sebut A) dalam setiap psikotest kepribadian dia tak cocok dengan requirement perusahaan..maka dia dalam tes kepribadian pasti tidak akan diterima..
Contoh :
A ingin melamar pekerjaan di BUMN bagian marketing yang membutuhkan kerja team work, dan kepribadian dia adalah seorang individualis dan cenderung ke arah seniman…

jelas, sampai kapanpun jika dia mengerjakan secara jujur psikotes tsb , dia tak kan pernah lolos….

ARTINYA, dia tak kan pernah mendapatkan pekerjaan di bidang yang rata2 (saya anggap) populer…

Dunia global ini orang harus cerdik melihat situasi jika seseorang tsb ingin survive… Kapan kita harus menyeimbangkan id, ego dan superego….

btw, sekedar info saya lulusan ilmu politik..

yaia
November 29th, 2007 at 8:29 pm

dear yaia..

kita kembali pada si A, dengan hasil psikotestnya yang “tidak jujur” kemudian dia diterima bekerja, apakah dengan ketidakcocokannya dia akan mampu bertahan lama dengan pekerjaan itu ?
Saya pikir tidak. Dan itu akan sangat merugikan; baik dari sisi si A sendiri maupun dari sisi perusahaan.

A akan sangat sulit untuk melakukan adaptasi antara pekerjaan dengan kompetensi dan skill yang dia punya. Dia harus mengeluarkan effort yang sangat besar, yang belum tentu dia mampu dan toh akhirnya kemungkinan besar akan gagal juga.
Dari sisi perusahaan? lebih rugi lagi karena selain telah mengeluarkan cost untuk recruitment, juga harus mengeluarkan cost buat training yang kemungkinan besar akan gagal..

lalu bagaimana jalan keluarnya buat A?
Alternatifnya adalah dia mencari pekerjaan yang lebih sesuai dengan skill dan traits yang dia miliki (ex: penulis, wartawan lepas dll), atau dia menciptakan pekerjaan yang memang sesuai dengan dirinya.

Tidak ada pekerjaan yang tidak populer, selama kita punya niat untuk mengerjakannya sebaik-baiknya.

Nina
November 29th, 2007 at 9:10 pm

pada kenyatannya orang yg cenderung menunjukkan motivasi rendah, tdk teliti, inisiatif kurang , problem solving dan analitical thinking kurangdll…. menjadi pertimbangan untuk tdk masuk kualifikasi semua pekerjaan. Artinya pada kenyataannya bukan masalah kualifikasi sesuai atau tdk sesuai, tp lebih kepada bagus atau tdk bagus…..gmana mba…

reza
November 29th, 2007 at 10:25 pm

mas reza,
motivasi, ketelitian, kemampuan dalam problem solving dan analytical thinking kan termasuk dalam kategori kualifikasi juga bukan? dan itu termasuk yang diukur dalam psikotes.

perlu dipahami bahwa setiap posisi membutuhkan nilai yang berbeda-beda dalam setiap aspek. ini yang dimaksud dengan sesuai atau tidak sesuai.
let say, misalnya posisi admin tidak terlalu membutuhkan kemampuan analytical thinking dan problem solving yang terlalu tinggi, misalnya dari skala 1 - 5, dia hanya butuh nilai 2. Orang yang hasil penilaiannya dia dapat nilai 4, akan terkategori dalam overqualified dan bisa saja tidak lulus lho mas..

Nina
November 29th, 2007 at 11:06 pm

1. mbak nina lebih prefer mana untuk mendapatkan gambaran dari kandidat karyawan
psikotest ato wawancara? alasannya?
2. terakhir metode interview pake BEI, ada ga yang terbaru?

thanx

reza
December 10th, 2007 at 4:57 am

@ reza
Sebagai gambaran, akurasi dari people decision dengan menggunakan metode adalah seperti ini:
Interview 14 %
Background Checks & Integrity Testing 26 %
Personality Assessments 38 %
Ability Testing 54 %
Interest Assessments 66 %
Job Matching 75 %

Jadi, cukup terbayang kan kalau yang kita lakukan hanya salah satu metodenya saja?

2. Sampai dengan saat ini yang paling banyak dipakai adalah BEI, tapi menurut info dari teman-teman sekarang mulai dikembangkan Targeted Selection (TS) Interview. Tentang BEI dan TS ini sendiri akan saya coba bahas dalam posting terpisah nanti ya.. Doakan saja :)

Nina
December 10th, 2007 at 6:16 am

Dear all,
Bisa gak tolong saya, buatkan flowchart dan metode penerima staf yang akan kami pakai untuk acuan,

Demikian terima kasih

Best Regard

KK

kukuh
December 18th, 2007 at 4:19 pm

dear pak kukuh..
bagaimana flowchart dan metode penerimaan staf sangat tergantung pada kebijakan di perusahaan itu sendiri. Bukan nggak mau bantu lho Pak.. tapi takutnya malah jadi gak efektif nantinya..

Nina
December 20th, 2007 at 4:37 pm

Salam kenal…
Mbak, perusahaan saya akan merekrut karyawan, kalo psikotesnya mo pake DiSC dimana ya kira-kira saya bisa memperolehnya?

Linda
January 11th, 2008 at 11:31 am

Mbak Linda:
Bisa hubungi disini:

T. NBO Indonesia & Thomas International
Wisma Kyoei Prince 11th Floor
Jl. Jendral Sudirman Kav 3-4
Jakarta 10220, Indonesia
Phone: (62) 21 - 5723352
Fax: (62) 21- 5723857

· Email:
nbothomas@nboindonesia.com

· Website:
NBO & Thomas
Thomas International

Nina
January 11th, 2008 at 4:46 pm

Mbak, saya sudah email ke NBO Indonesia&thomas Iternasional tapi belum dibalas. Kalu mbak tahu kira-kira berapa hrga DiSC dan bagaimana cara penggunaannya tolong info ke saya ya mbak…..

Linda
January 14th, 2008 at 1:19 pm

mbak Linda,
coba email ke sini deh: noa@nboindonesia.com

oh ya, info-nya sih DISC disana harganya rp10.000/lembar.
untu penggunaannya sendiri agak panjang kalau diuraikan disini, akan tetapi ada beberapa lembaga yang menyediakan trainingnya. HRD forum sepertinya punya training ini.

Saya dulu pernah ikut training DISC, trainernya bang Henndy Ginting alumni Psikologi Unpad yang sekarang mengajar di Univ. Maranatha Bandung. Alamat emailnya henndy.ginting@psy.maranatha.edu
Mungkin bisa minta informasi kesana.

Nina
January 14th, 2008 at 1:38 pm

Mbak, saya sudah mencoba menghubungi NBO Indonesia & Thomas Internasional lewat e-mail untuk menanyakan mengenai DiSCtapi belum ada jawaban. Aapakah mbak bisa memberitahu saya lebih jauh mengenai DiSC? mengenai harganya dan cara penggunaannya

linda
January 14th, 2008 at 3:36 pm

mungkin coba di telpon aja, mbak untuk konfirmasi sudah kirim email. Saya juga belum pernah berhubungan langsung.

Untuk penggunaannya, saran saya ikut trainingnya aja karena untuk skoring dan interpretasi hasilnya cukup rumit dan nggak bisa saya jelaskan disini. mungkin bisa email ke bang henndy (alamat emailnya ada di comment saya di atas.

Nina
January 14th, 2008 at 3:46 pm

Makasih ya mbak atas infonya. Kalau di jogja, dimana ya kira kira bisa memperolehnya (DiSC), karena saya berada di jogja

linda
January 14th, 2008 at 3:53 pm

mbak Linda…. kalau mau test pake DiSC di jogja, boleh pakai jasa ibu MAria Herlina di 0816 116 5860, beliau mondar mandir jakarta, solo.

didik
January 17th, 2008 at 10:04 am

Bu,
Kami menyelenggarakan workshop mengenai DiSC ini, silakan lihat dalam agenda kami di http://www.agenda.HRD-Forum.com

setiap peserta akan mendapat softwarenya, plus 100 pulsa. Pengajarnya Pak Heru alumnus Unpad, saat ini mengajar di Psi UI

Rani Kartika
March 9th, 2008 at 11:26 pm

Kadang ada dilema yang aneh (menurut saya)

Ada pernyataan be yourself dengan jawaban psikotest nya,
tidak perlu memanipulasi jawaban test.
Apabila anda tidak lolos biasanya karena tidak cocok dengan requirement.

Tapi jika kemudian yang terjadi adalah calon karyawan selalu tidak lulus pada saat rekruitment psikotestnya selama ini (misalnya selama 5 tahun), apa yang harus dilakukan?
Tentu saja ini pastinya akan mempengaruhi jiwa sang calon karyawan tersebut. Dengan kata lain psikologi dia tidak cocok dengan semua perusahaan tempat dia melakukan psikotest.

Menurut pengalaman Mba Nina apakah ada orang seperti itu?
Apa yang seharusnya orang itu lakukan? Kasian bo!

Kalo udah gini kayanya dia butuh pencerahan bagaimana menghadapi soal2 psikologitest.

tomfreakz
May 15th, 2008 at 9:27 am

hmm.. terus terang saya belum pernah ketemu orang yang nggak lolos psikotest selama 5 tahun sih mas Tom. Yang ada mungkin psikotest lulus, tapi interview nggak. Tapi … mungkin aja terjadi kalo selama lima tahun dia psikotest untuk posisi yang sama terus-menerus. tapi kayaknya kalo udah segitu lama, seseorang akan coba cari kerjaan apapun dan nggak idealis dengan satu jenis pekerjaan aja.

Banyak juga lho mas kerjaan yang nggak pake psikotest dalam seleksinya. Jadi.. think out of the box aja :-)

Nina
May 16th, 2008 at 8:32 am

Makasih atas jawabannya Mba Nina.

Ngomong-ngomong, dari beberapa psikotest yang telah diadakan perusahaan seperti misalnya Bank Mandiri, Telkomsel, BI atau Chevron, kira-kira karakter seperti apa yang dibutuhkan? Jikalaupun requirementnya dinamis, kira-kira apa saja yang pernah ditetapkan dan menjadi bahan pertimbangan?

tomfreakz
May 25th, 2008 at 7:38 am

kalo psycotes di utk pns sama ga dgn utk swasta

hermanabro
June 26th, 2008 at 11:37 am

Mbak…
tolong dikimkan donk soal-soal psikotes ke emailku lengkap dengan pembahasannya dan cara penilaiannya…
tolong ya mbak… karena saya akan menghadapi tes psikotes cpns. trims b4….

solidei
August 29th, 2008 at 3:13 pm

@solidei:
ini permintaan serius ya? :D
maaf ya pak/mas/bu/mbak, tentu saja saya tidak bisa mengirimkan soal psikotes apalagi lengkap dengan pembahasan dan cara penilaiannya.
Coba dibaca lagi tulisan saya diatas, cari tau esensinya psikotes apa dan apakah memang untuk psikotes diperlukan persiapan khusus :D

Nina
August 29th, 2008 at 3:48 pm

Psikotest memang gak usah dipersiapkan, seperti tulisan di Atas..just be your self aza…pengalaman saya dulu lulus kuliah melamar-melamar ke sana-kemari banyakan gak lulus psikotest semua…akhirnya saya ambil psikotest sendiri ke psikolog karena ingin liat apa yg salah sama saya, ternyata dari hasil psikotest potensi saya paling baik jika jadi Penerbang, akhirnya saya putus kan sekolah lagi untuk ambil Lisensi Pilot ..dan AKHIRNYA…..saya sekarang berkarir sebagai penerbang di perusahaan Penerbangan milik bangsa ini hehehehe….

Bambang
September 11th, 2008 at 10:03 am

Leave a Comment

Name (required)

Mail (will not be published) (required)

Website

Comment