Sex Education bagi Remaja: Sebuah kontroversi

Ketika saya pertama kali mengalami “datang bulan”, ibu saya memberi tahukan apa arti dari datang bulan, yaitu adanya sel telur yang tidak dibuahi, sehingga saya tahu apabil sel telur dibuahi, maka akan dapat terjadi kehamilan. Apakah semua anak perempuan diberikan informasi yang sama seperti saya? Saya yakin tidak.

Seorang teman menceritakan kehidupan rumah tangganya yang hambar, karena dia tidak tahu bagaimana harus bersikap kepada suaminya. Selama hidupnya, dia hanya tahu bahwa sex adalah suatu yang tabu untuk dibicarakan dan memalukan untuk dilakukan. Ternyata hal ini terinternalisasi dalam dirinya, dan terwujud dalam hubungan rumah tangga dengan sang suami.

Ilustrasi diatas memberikan kita gambaran mengenai bagaimana berbagai penerapan sex education pada remaja, yang terjadi dilingkungan keluarga.

Menurut kamus wikipedia, Sex education is a broad term used to describe education about human sexual anatomy, sexual reproduction, sexual intercourse, and other aspects of human sexual behavior.

Wajarkah seorang remaja mengetahui mengenai sex?

Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Hurlock (1973) menyatakan pada masa remaja, seorang remaja akan mengalami transisi, baik transisi biologis, transisi kognitif maupun transisi sosial. Seiring dengan transisi fisik yang dialaminya, remaja juga mengalami transisi kehidupan seksualitas, yaitu dari kehidupan seksualitas anak berupa pengenalan akan organ tubuh serta peran seks sesuai dengan jenis kelamin masing-masing menuju kehidupan seksualitas dewasa yang diawali dengan munculnya perhatian dan minat pada lawan jenis menyebabkan terbentuknya relasi antara remaja putra dan remaja putri yang dikenal dengan relasi heteroseksual.

Untuk mencapai kehidupan seksualitas dewasa, remaja harus memperoleh pengetahuan mengenai masalah seks dan peran sesuai jenis kelamin yang diakui oleh lingkungan sekitarnya. Tujuannya tentu saja agar si remaja dapat melakukan perilaku seksual yang sesuai dengan tuntutan lingkungannya.
Weitsss… PERILAKU SEKSUAL?? Jangan salah tangkap.. semua perilaku yang berkaitan dengan lawan jenis, adalah perilaku seksual.. jadi nggak hanya secara fisik. Perasaan suka, naksir, sekedar ccp, itu juga adalah perilaku seksual… dan itu merupakan tugas perkembangan yang HARUS dilalui oleh seorang remaja.

Kontroversi penerapan sex education di Indonesia
Kebanyakan orang menganggap bahwa sex education tidak pantas untuk diterapkan di Indonesia. Kenapa? Banyak yang salah pengertian mengenai sex education, menganggap bahwa kalau diberikan sex education, bisa menyebabkan si remaja bertingkah laku yang “negatif”. Padahal, dengan sex education justru mampu mencegah remaja dari melakukan perilaku seksual diluar yang di”maklumi” oleh lingkungannya.
Tinggal sex education yang bagaimana yang seharusnya diberikan sesuai dengan usia si remaja tersebut.

Bagaimana bentuk sex education yang seharusnya diinformasikan kepada remaja?

Remaja harus mempelajari pola-pola perilaku seksual yang diakui oleh lingkungan serta nilai-nilai sosial sebagai pegangan dalam memilih teman hidup. Remaja juga harus belajar mengekspresikan ‘cinta’ pada lawan jenisnya, dan belajar memainkan peran sesuai jenis kelamin, sebagaimana yang diakui oleh lingkungan.

Berikut ini akan diterangkan satu persatu mengenai tugas-tugas tersebut:

1. Memperoleh pengetahuan mengenai seks dan juga peran sebagai pria atau wanita dewasa yang diakui oleh lingkungan masyarakat sekitarnya.
Pengetahuan ini penting sekali artinya, sebelum remaja mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dalam berinteraksi secara dewasa dengan lawan jenisnya. Dengan pengetahuan itu, ia akan mampu memahami kewajiban dan tanggung jawab yang harus dipikulnya sama baiknya dengan kesenangan dan kepuasan yang ia dapatkan. Dengan pengetahuan itu pula, ia akan lebih mampu memainkan peran sesuai jenis kelamin yang diakui oleh lingkungan masyarakat.

2. Mengembangkan sikap terhadap seks
Tugas perkembangan yang kedua dalam masa transisi seksual ini adalah mengembangkan sikap yang positif terhadap seksualitas. Sikap-sikap yang positif terhadap masalah seksualitas ini menyangkut perasaan remaja terhadap anggota kelompok lawan jenis, perasaan remaja terhadap peran perempuan atau laki-laki sesuai jenis kelamin, dan perasaan terhadap masalah-masalah seks itu sendiri. Semua perasaan ini menyangkut norma-norma yang diakui oleh lingkungan sosial dimana remaja itu menetap.
Sikap yang positif terhadap masalah seksual akan mengarahkan remaja pada penyesuaian dalam heteroseksualitas yang lebih mudah dan lebih baik. Sekali saja suatu sikap terbentuk, sikap positif atau negatif, maka sikap itu cenderung akan menetap seumur hidupnya.

3. Belajar bertingkah laku dalam hubungan heteroseksual menurut cara yang diakui oleh lingkungan masyarakat.
Belajar bertingkah laku sesuai apa yang diakui oleh lingkungan sosial dalam hal relasi heteroseksual merupakan tugas perkembangan ketiga dalam masa transisi menuju seksualitas dewasa. Pengalaman bergaul dengan lawan jenis akan banyak membantu remaja dalam usahanya menguasai tugas perkembangan ini.

4. Menetapkan nilai-nilai dalam memilih pasangan hidup.
Tugas keempat yang harus dikuasai remaja dalam menjalani masa transisi menuju kehidupan seksualitas dewasa adalah menetapkan nilai-nilai yang akan menjamin suatu pengambilan keputusan yang bijaksana dalam memilih pasangan hidupnya.

5. Belajar untuk mengekspresikan cinta
Tugas penting kelima adalah belajar menyatakan perasaan dan emosi yang terbangkit oleh orang yang dicintainya, sesuai dengan norma-norma yang berlaku.
Pada masa transisi menuju kedewasaan, pada umumnya remaja harus belajar untuk menjadi lebih “outer bound” sebagai ganti dari sifat “self bound” yang merupakan ciri kekanak-kanakan. Remaja harus belajar menunjukkan afeksinya dan memperlihatkan rasa sayangnya serta menerima hal itu dari orang lain, khususnya lawan jenisnya.
Dengan dimilikinya dorongan-dorongan seksual pada remaja, membuat remaja tertarik pada lawan jenis kelamin dan mulai mencoba mengekspresikan dorongan-dorongan tersebut. Disini remaja mulai mengenal ‘arti cinta’ dan berusaha untuk mengekspresikan cinta tersebut. Dalam mengekspresikan ‘cinta’ ini terdapat berbagai macam cara yang dilakukan remaja, baik yang bersifat nonfisikal maupun fisikal.

6. Belajar untuk memainkan peran sesuai dengan jenis kelamin
Belajar untuk memainkan peran sesuai dengan jenis kelamin merupakan tugas keenam dalam mencapai heteroseksualitas yang matang. Tugas ini merupakan tugas yang paling sulit dan penuh tantangan, terutama bagi remaja putri.

Jadi.. sebetulnya sex education itu akan dapat sangat membantu mencegah terjadinya perilaku-perilaku seksual yang tidak diterima oleh masyarakat seandainya jenis pendidikannya sesuai, dan membantu dalam pengembangan si remaja sendiri.

Share and Enjoy: These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • del.icio.us
  • Netvouz
  • DZone
  • ThisNext
  • MisterWong
  • Wists

6 comments so far

Hello Nina…
Kalau menurut pendapat saya, pendidikan sex untuk remaja itu “penting diberitahukan/ diinformasikan kepada mereka”, asal… dengan Cara yang baik & benar dan pada Waktu yang tepat.

Kapan2 kita bahas lebih lanjut yach…

Best Regard

Bintang
http://elindasari.wordpress.com

elindasari
November 19th, 2007 at 2:11 am

hai nina…………….
sex edukation tu ga cuma buat remaja ja, sebenarnya kita musti dah ngasih tau soal seks sejak seseorang dalam usia dini, atau mungkin kalau bisa kita kasih tau pada saat si anak masih kecil………..
misalnya dengan ngasih tau soal dari mana datangnya bayi
tapi jangan salah pilih kata kan bisa bahaya tuh………….
OK!!!!!!

zie
March 8th, 2008 at 5:03 pm

kalo menurut saya…pendikan sex bagi remaja sangat perlu. Tapi yg mesti diperhatikan bahasa penyampaiannya.

tony
March 10th, 2008 at 7:10 pm

hai………..nina……..
menurut saya sex education sangat penting dan seharusnya di berikan sejak bayi ketika beranjak remaja keingintahuan tentang sex sngat besar seharusnya orang tua lebih bijaksana,lebih terbuka,dan lebih pintar juga mengangap hal itu bkn hal yang tabu untuk dibicarakan pada anak tapi harus dengan bhs yang mdh dimengerti oleh si anak sesuai dengan usianya

yulia
March 13th, 2008 at 8:18 pm

zie, tony dan yulia..
thanks untuk sharingnya :)

Nina
March 16th, 2008 at 1:25 am

gak usah ada pendidikan sex, itu hanya mengajarkan sex untuk anak2. Siapa yang mendukung, dia suka main sex

putra
March 17th, 2008 at 8:44 am

Leave a Comment

Name (required)

Mail (will not be published) (required)

Website

Comment